Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Mengaku Salafi Tapi Tutur Kata Menyakiti

Salaf secara bahasa bermakna terdahulu. Istilah ini umum digunakan dalam tradisi linguistik Arab. Istilah salaf menjadi ramai digunakan karena peta sejarah menunjukkan bahwa orang-orang terdaulu (generasi nabi dan sahabat) dipandang sebagai generasi Islam paling ideal. Kenyataan tersebut kemudian menjadikan istilah salaf sebagai ‘rebutan’ kalangan belakangan, termasuk masyarakat muslim saat ini. Orang-orang beramai-ramai mengaku salaf, yang selanjutnya menamakan diri mereka salafi (bentuk isim jinsi dari salaf). Salafi menunjukkan kepada golongan orang-orang yang mengikuti tradisi nabi dan para sahabat yang dihidayahi.

Namun ditengah upaya mengikuti nabi dan sahabat-sahabatnya tersebut, istilah salafi dalam dinamika tradisi sosial keagamaan masyarakat muslim menjadi pusara konflik yang telah mengantarkan ummat dalam gelombang pertikaian yang terus berlangsung. Telah banyak kajian-kajian ilmiah yang membahas tentang fenomena kaum salafi, mulai dari ideologinya, tokoh-tokohnya hingga interaksi sosialnya. Banyak yang menyudutkan, namun tak sedikit yang mengaguminya.

Tulisan ini ingin melihat fenomena wahabi dalam konteks tradisi tuturannya. Sebagaimana kita lihat di berbagai tayangan Youtube, maupun di beranda Facebook, gaya ceramah kaum salafi (sering disebut salafi-wahabi) cendrung menunjukkan sikap keras dan sangat suka memojokkan paham keagamaan yang berbeda dengannya. Tak jarang tuturan mereka bernada mengolok hingga menuai respon negatif dari berbagai kelompok masyarakat muslim.

Beberapa waktu terakhir, viral ceramah seorang ustaz salafi-wahabi yang dianggap melecehkan para pendahulu muslim di daerah Lombok dengan menyebut makam mereka sebagai makam kotoran anjing (tain acong). Istilah yang sejatinya tak layak disebutkan oleh orang yang mengaku mengikuti nabi. Pernyataan tersebut sontak membuat banyak kalangan tersakiti, terlebih masyarakat muslim di pulau Lombok yang sudah sangat akrab dengan tradisi menziarahi makam-makam para wali dan ulama’ yang merupakan para pendahulu mereka.   

Tradisi dakwah kaum salafi-wahabi ini memang menjadi kontradiktif dengan pesan-pesan nabi. Bahwa nabi saw, selalu menekankan kepada tuturan yang baik. Beberapa hadits menyebutkan: ‘siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah berkata baik, atau diam’. ‘siapa yang tidak meinggalkan perkataan kotor saat berpuasa, maka tidak ada gunanya dia meninggalkan makan dan minumnya’. ‘dua hal yang mejerumuskan manusia ke dalam neraka: mulut dan kemaluan’.

Beberapa hadits diatas menunjukkan bahwa tuturan menjadi satu kewajiban yang perlu dijaga dalam berinteraksi sosial apalagi dalam menyampaikan pesan-pesan nabi. Apa yang dilakukan oleh salah seorang tokoh salafi wahabi beberapa waktu yang lalu adalah bentuk menentang aturan nabi. Maka kita berlindung kepada Allah dari mengikutinya.

Kita berharap tutur kata dalam berinteraksi diperbaiki sehingga tidak menyalahi pedoman nabi. Perbedaan merupakan hal niscaya yang tidak bisa dihindari, tetapi mengganggap orang yang berbeda salah dan mengolok-oloknya merupakan etika dakwah yang tak bersumber dari nabi!

Post a Comment for " Mengaku Salafi Tapi Tutur Kata Menyakiti"