Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Pentingnya Kesadaran Ganda di Era Digital

Di masa posmodern seperti ini, konsumerisme menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat. Banyak orang menilai bahwa kebahagiaan hidup itu diukur dari pekerjaan apa, setiap hari makan apa, nongkrongnya dimana serta pertanyaan materialis lainnya yang sangat congkak jika direlevansikan dengan naluri dasar manusia. Selain kenyataan konsumeris itu, manusia dewasa ini juga terkesan memiliki “dunia sendiri” dengan kemajuan teknologi mereka. Alat-alat yang mereka temukan telah menjadi “sihir” baru yang mengubah orang dekat menjadi jauh dan orang maya menjadi nyata.

Tanpa bermaksud untuk menjadi bagian yang suci, tulisan ini ingin menuju suatu refleksi yang semoga tidak hanya berlangsung melalui kata-kata yang terhampar di dunia maya juga. tapi berlanjut pada usaha kongkrit yang riil. Sebagaimana yang kita tahu bahwa kesadaran manusia akan nasib mereka sebagai korban dari teknologi yang mereka temukan bukanlah rahasia umum. Banyak kalangan mengkampanyekan anti ‘dunia kecil yang digenggam’. Tapi kampanye mereka sering kali hanya terbatas pada tulisan di dunia maya yang menurut saya juga akan berimplikasi pada hal yang sama yakni ‘keterjebakan’ dalam kemayaan yang tak berujung.

Seorang aktivis sosial sejati tidak pernah hanya berbicara teori tapi juga melaksanakan aplikasi dari kata-kata mereka. Apa yang terjadi dewasa ini merupakan peristiwa panjang tentang kesadaran manusia yang pincang. Kesadaran yang terbangun hanya kesadaran secuil yang aplikasinya masih belum mampu keluar bahkan dari fenomena yang mereka lawan sendiri.

Di antara persoalan teknologi yang mengancam naluri sosial manusia adalah kebiasaan manusia saat ini yang dalam interaksi kesehariannya selalu bersama Gadgednya. Mereka selalu terpaut dengan dunia yang ada dalam genggaman mereka. Tidak usah jauh mencari bukti itu, pada diri pembaca pasti mengalami hal yang seperti itu terlebih saat berada di tempat-tempat umum, saat di konser, saat perayaan pesta dan sebagainya.

Adapun kesadaran yang saya maksudkan yang sejatinya telah terbangun pada beberapa diri seperti munculnya kampanye untuk meninggalkan hal itu di tulisan-tulisan website ataupun di akun-akun medsos seperti Facebook, Twitter, Path dan sebagainya. Kampanye-kampanye tersebut ada yang berbentuk tulisan ada pula yang berbentuk gambar.  Bahkan sejauh penelusuran penulis konten atau isi tulisan-tulisan ataupun gambar-gambar tersebut sangat nyata digambarkan persoalan yang tengah diperbincangkan. Tapi sebagaimana yang saya katakan, bahwa kita tidak cukup dengan satu kesadaran, kita butuh kesadaran lebih dari hanya sekedar mewacanakan.

Ketika kesadaran seseorang untuk melawan dominasi gadged melalui tulisan-tulisan ataupun gambar-gambar di dunia maya serta cukup hanya sampai di sana. Itulah yang menurut saya sebagai bentuk kesadaran yang dangkal. Artinya kesadaran semcam itu hanya akan berbekas pada penyadaran sesaat dan setelah selesai tulisan dibaca maka semua akan biasa saja. Bahkan termasuk yang menuliskan tulisan tersebut akan mendapatkan diri mereka yang terjebak pada kata-kata sendiri.

Untuk itu dibuthkan kesadaran ganda dalam upaya mengkampanyekan manusia yang anti keterkungkungan pada dunia yang mereka genggam. Kesadaran ganda yang saya maksudkan adalah kesadaran yang dibangun melalui aspek teoritis maupun praktis. Secara teoritis adalah sebagaimana yang telah banyak orang-orang lakukan yakni mengkampanyekan wacana tersebut di dunia maya. Dan tidak sampai di sini, kesadara ganda kemudian dilanjutkan dalam tindakan riil yang mencakup kehidupan sosial yang sesungguhnya. Dalam tahapan kedua ini seseorang yang menginginkan untuk mendekonstruksi tradisi manusia modern yang mayais harus menggunakan tindakan kongkrit berupa realitas pribadi seseorang. Dengan kata lain seseorang yang mengkampanyekan untuk melibas dominasi gadged, mereka harus juga meninggalkan alat tersebut khususnya ketika berkaitan dengan kepentingan umum seperti tempat-tempat yang sudah saya sebutkan di atas. Kita harus memiliki waktu-waktu tertentu untuk melepas ‘dunia ciptaan diri sendiri’ untuk merasakan dunia yang sesungguhnya.

Pada prinsipnya kesadaran ganda sebagai cara untuk memaksimalkan potensi manusia yang mulai dipecundangi oleh ciptaan manusia sendiri merupakan langkah untuk menjadi manusia yang seutuhnya, yaitu manusia yang sosial, yang peduli dan yang memiliki keinginan untuk mengetahui keadaan orang-orang di sekelilingnya. Alangkah indahnya jika kehidupan ini masih selalu dihiasi dengan tegur sapa sehingga legalitas manusia sebagai mahluk yang paling utama bisa tetap dibuktikan dan menjadi teladan bagi alam semesta. 

Post a Comment for "Pentingnya Kesadaran Ganda di Era Digital "