Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Perempuan yang Terpasung (Refleksi Kritis Kehidupan Berkeluarga Masyarakat Lombok)

Ada cerita buram tentang perempuan yang hidup di bumi lombok. Mereka yang seharusnya memiliki kehormatan yang utuh karena pengorbanan dan pengabdiannya untuk suami dan anak-anaknya, mereka yang berkarya atas hidup dan tantangan generasi masa depan, mereka yang harus lelah terseok demi untuk melihat senyum di bibir anak-anaknya. Di bumi lombok mereka mendapatkan kenyataan yang berbeda dari pengabdian mereka. inilah cerita tentang perempuan terpasung yang masih saja menjadi pemandangan buram di bumi lombok.

Tulisan ini tidak bermaksud memukul rata seluruh daerah lombok dengan fenomena yang akan saya utarakan. Ini hanya sajian data penelitian yang saya harapkan bisa menjadi refleksi bagi mereka kaum adam sebagai suami dan pembimbing istri.

Adalah hal yang biasa ketika seorang suami tidak mau tunduk pada apa yang dikatakan oleh istri. Suami sering kali merasa bahwa mengikuti kata-kata istri merupakan hal yang hina dan mengikutinya sering kali menjadi aib di hadapan rekan-rekannya. Pandangan sempit ini membuat kesemena-menaan kaum adam semakin menjadi-jadi terhadap perempuan. Misalnya saja ketika seorang istri bertanya kepada suaminya, “Kak mau kemana?” sang suami akan menjawab dengan nada angkuh, “mau tau aja, urus saja pekerjaan rumahmu.”

Kenyataan seperti ini dipengaruhi sangat besar oleh mainset yang sempit tentang wibawa seorang lelaki harus selalu dipertahankan, bahkan jikapun harus dengan menganiaya istri. Terkadang karena sifat tidak mau diatur, sang suami memilih untuk memukul istrinya dan itu akan menjadi “kebanggaannya” secara psikologis maupun secara sosial di hadapan teman-teman cowoknya.

Memang pandangan bahwa lelaki itu superior dibandingkan perempuan sangatlah kental di daerah lombok. Paradigma ini pada gilirannya memposisikan wanita sebagai yang inverior dan selalu tertekan. Namun karena garis budaya yang sudah terlanjur terbentang, perempuan hanya senantiasa “memakan hati” dan selalu mencoba bertahan dengan seluruh penganiayaan dan derita yang mereka terima.

Fenomena keterpasungan wanita ini membuat saya merasa prihatin dan berinisiatif untuk membuka satu jalur baru dalam sejarah sosial masyarakat Lombok. Saya merasa mentalitas kolot kaum lelaki yang sok-sokan bersikap superior itu harus segera dirobohkan untuk menempatkan perempuan dalam posisi yang “manusiawi” dan layak dalam kehidupan berumah tangga maupun berinteraksi sosial.

Satu kendala pokok yang menjadi penghalang dalam membentuk mentalitas kaum lelaki yang semena-mena adalah pandangan tokoh agama maupun masyarakat yang sering kali menganggap “wajar” jika suami itu marah-marah kepada isterinya. Ini tentulah pandangan yang sempit meskipun sering kali mereka menyetir beberapa hadits ataupun ayat-ayat alquran sebagai dalil agama.

Model konvensi sosial seperti di atas semakin membuat perempuan dalam keadaan serba tertekan. Pada akhirnya perempuan-perempuan itu akan mengalami tekanan psikologis yang dahsyat, yang pada gilirannya akan mengurangi fokus mereka dalam mendidik anak, padahal posisi perempuan sangatlah vital dalam proses mendidik anak. Inilah mungkin salah satu penyebab mengapa generasi dewasa ini senantiasa akrab dengan kekerasan dan ketidakpatuhan. Barangkali saja karena mereka senantiasa melihat kekerasan dalam keluarga dimana mereka tumbuh.

Untuk menyelamatkan perempuan-perempuan dari keterpasungan semacam di atas, dibutuhkan kesadaran individu yang sifatnya kolektif dari kaum adam. Artinya di samping kesadaran suami juga kesadaran rekan-rekan mereka untuk lebih menghargai istri-istri mereka. Apa salahnya menjawab pertanyaan istri yang bertanya, “kak mau kemana?” karena sangat mungkin bahwa pertanyaan itu sebagai tanda sayang untuk memastikan suaminya baik-baik saja dalam perjalanannya. Dalam hal ini harus senantiasa memupuk cinta diantara pasangan suami istri.

Di samping kesadaran psikologis tersebut, tokoh agama maupun masyarakat harus bisa mendoktrinasi masyarakat mereka bahwa perempuan juga memiliki hak untuk bertanya tentang kegiatan suaminya. Dalam hal ini dibutuhkan sifat rumah tangga yang lebih adil dalam melihat hak dan kewajiban suami dan istri. Jika persamaan hak itu bisa terwujud sangat bisa dipastikan bahwa fenomena kekerasan dalam rumah tangga bisa diminimalisir.

Pada akhirnya, perempuan-perempuan juga harus berani untuk mengajukan pendapat mereka dalam aktivitas rumah tangga, jangan hanya diam dan nangis melihat kesemena-menaan suami. Perempuan tidak sepantasnya terpasung dalam dunia yang membutuhkan peran mereka secara sentral. Perempuanlah yang akan menentukan baik buruknya generasi manusia di masa depan. Untuk itu perempuan harus cerdas dan berani. Cerdas dalam mendidik anak, berani dalam membantu suami untuk lebih bersikap lemah lembut dan menghargai.  


Tulisan ini adalah refleksi penulis setelah melakukan riset tentang kehidupan  keluarga masyarakat Lombok pada tahun 2016

Post a Comment for " Perempuan yang Terpasung (Refleksi Kritis Kehidupan Berkeluarga Masyarakat Lombok)"