Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Konstruksi Sosial Masyarakat Muslim Pulau Seribu Masjid (Lombok)

 Sebagai daerah dengan demografi muslim mayoritas, Lombok terkenal dengan Pulau seribu masjid. Penamaan sebagai pulau seribu masjid karena di sudut-sudut desa, atau bahkan dusun, terdapat masjid sebagai tempat ibadah dan pendidikan masyarakat. Sebagaimana catatan seorang peneliti seni asal Bandung, terdapat 3.767 Masjid besar dan 5.184 masjid kecil di 518 desa di Lombok(Republika, 2018). Adapaun identitas keagamaan yang berkembang di pulau Lombok bercorak muslim yang berafiliasi ke model ahlus sunnah wal jamaah (Djamaluddin, 2011).

Aktor keagamaan yang paling berpengaruh dalam konstruksi sosial keagamaan masyarakat Lombok adalah Tuan Guru (Fahrurrozi, 2018). Dalam tradisi Jawa, tuan guru setara dengan Kiai. Yakni orang yang ditokohkan, memiliki pengetahuan keagamaan yang mendalam. Para Tuan Guru biasanya menjadi tempat bertanya masyarakat tentang masalah keagamaan mereka, terutama persoalan hukum-hukum fikih. Karenanya, dalam setiap persoalan keagamaan, masyarakat Lombok umumnya merujuk ke tuan guru.


Fakta tersebut menunjukkan bahwa masyarakat muslim Lombok secara umum tidak memiliki bekal pengetahuan yang memadai tentang perangkat fikih guna menyikapi suatu persoalan. Itulah mengapa saat pandemi, ketika ada masalah mereka biasanya akan merujuk ke keterangan para tuan guru. Dan, seperti yang akan kita lihat nanti, sikap masyarakat Lombok yang seperti ini yang menjadikan terbentuknya ‘kesalahpahaman’ antara produk MUI dengan produk tuan guru yang mereka terima.

Secara teologis, masyarakat muslim Lombok masih berada dalam jaring-jaring identitas masa silam. Sebagaimana yang banyak disebutkan dalam berbagai referensi, masyarakat muslim Lombok terbagi ke dalam dua tipe yakni muslim Waktu Lima dan muslim Wetu Telu (Eka Budiwanti, 2000). Islam waktu lima diasosiasikan sebagai Islam yang sempurna, dan Islam Wetu Telu lebih sebagai Islam yang sinkretis karena ritual keagamaannya masih banyak berbau ajaran nenek moyang. Tanda utama pengikut Islam Wetu Telu adalah tidak menunaikan sholat lima waktu, melainkan hanya 3 waktu dalam satu tahun (sungguhpun banyak sekali perbedaan pendapat tentang hal ini). Namun demikian, di era pasca orde baru, konstruksi sosial keagaman Lombok bertransformasi seiring dengan perubahan sosial melalui perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (Avoneus, 2004). Penulis sendiri menyebut bahwa pola identitas keagamaan masyarakat muslim Lombok unik, yakni terformat dalam proses negosiasi teologis yang canggih (War’i, 2020).

Pada prinsipnya model keberagamaan masyarakat Lombok masih diwarnai oleh identitas-identitas nenek moyang yang termanifestasi dalam berbagai tradisi yang masih hidup hingga saat ini. Ada perang topat. Yakni sebuah tradisi yang dilakukan di Lombok Barat. Salah satu tulisan tentang Perang Topat yang menarik adalah tulisan dari guru besar UIN Mataram, Prof. Suprapto (Suprapto, 2017), Maulid Petagan, Yakni tradisi maulid Nabi Muhammad yang dipadukan dengan tradisi adat di lokal kebudayaan desa Lendang Nangka di Lombok Timur, Ziarah Makam Leluhur, dan lain sebagainya. Kenyataan masyarakakat Lombok yang berlatar sosial keagamaan sebagaimana keterangan diatas mendorong masyarakat Lombok dalam tradisi keagamaan yang inklusif. Namun demikian dalam hal referensi fikih, masyarakat muslim Lombok tetap terpaku pada keterangan para tuan guru.

Lekatnya hubungan masyarakat Lombok dengan Tuan Guru dalam persoalan fikih di satu sisi menjadi hal positif karena masyarakat memiliki sumber pemahaman hukum yang kredibel dari ahlinya. Namun disisi lain menjadi salah satu faktor yang melahirkan polemik saat implementasi fatwa hukum Covid-19 diterapkan oleh pemerintah.

Post a Comment for "Konstruksi Sosial Masyarakat Muslim Pulau Seribu Masjid (Lombok)"