Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Contoh Penulisan Executive Summary untuk Konferensi Ilmiah dan Akademik

Dunia tulis menulis terus mengalami perkembangan. Belakangan berbagai format penulisan baik ilmiah akedemik maupun ilmiah populer mengalami dinamika yang luar biasa. Beberapa waktu yang lalu, penulis mendapatkan brosur yang mencari peserta konferensi ilmiah. Acara tersebut diadakan oleh Kementrian Agama. Bertajuk Mu'tamad (Simposium Khazanah Pemikiran Santri dan Kajian Pesantren) 2021, Panitia mensyaratkan membuat rancangan paper (executive summary) bagi para peserta yang berkeinginan untuk mengikutinya. 

Awalnya saya merasa bingung untuk mendapatkan referensi yang pas terkait format executive summary. Beberapa kali sempat browsing di google dengan kata kunci tersebut, namun kebanyakan diarahkan kepada penulisan executive summary dalam konteks bisnis atau usaha. Oleh sebab itu, pada kesempatan ini penulis memaparkan contoh penulisan executive summary yang dibuat unutk kepentingan konferensi atau acara yang bersifat ilmiah dan akademik. Format penulisan ini merupakan hasil modifikasi penulis sendiri dengan melihat format penulisan executive summary yang digunakan dalam konteks bisnis. Model ini penulis anggap benar karena penulis berhasil lolos mengikuti kegiatan tersebut dengan menyelesaikan tulisan executive summary menjadi bentuk paper.

Berikut contohnya: 

 Executive Summary

Judul

Strategi Pesantren dalam Meneguhkan Eksistensi Belajar Santri di Tengah Pandemi (Dari Penguatan Imunitas Hingga Karantina Komunitas)

Latar Belakang

Setelah hampir 2 tahun pandemi covid-19 menyelimuti dunia, tersisa banyak tantangan yang menuntut untuk didiskusikan dan dicarikan jalan keluarnya. Catatan penting di tengah pandemi menunjuk kepada tradisi pendidikan. Sejak kemunculan pertamanya di Indoneisa pada awal 2020, pandemi telah memaksa dunia pendidikan untuk merubah metode pembelajaran, yakni dari luring menjadi daring.

Meskipun pada awal-awal seluruh lembaga pendidikan secara nasional dialihtehniskan, tetapi pesantren pada beberapa bulan setelah serangan covid bermula, mulai menerapkan pertemuan muka dengan mengembalikan santri dan santriwati ke pondok pesantren. Meski di tengah berbagai catatan kritis dari para ahli dan akademisi, faktanya pesantren bisa melaksanakan pendidikan secara normal jauh sebelum pemerintah memberikan izin pertemuan kelas secara tatap muka.

Uniknya meski melaksanakan tatap muka pada masa-masa zona berbahaya covid-19, tetapi hingga saat ini angka positif covid-19 dari pesantren sangat minim. Ini menunjukkan bahwa pesantren memiliki pertahanan yang cukup kuat dalam menyikapi dan menembus dinding pandemi. Salah satu pondok pesantren yang tetap melaksanakan pertemuan tatap muka di tengah pandemi adalah pondok pesantren Thohir Yasin di Kabupaten Lombok Timur. Tercatat, hanya 2 pekan pesantren ini meliburkan santri yakni pada awal kebijakan peralihan model pembelejaran luring ke during.

Sejak memutuskan untuk memasukkan santri ke asrama, Thohir Yasin berupaya dengan keras untuk menerapkan protokol kesehatan untuk mengantisipasi virus covid 19. Hasilnya, hingga hari ini belum ada satupun santri pondok pesantren tersebut yang dinyatakan positif covid 19.

Fakta ini menarik dihadirkan dalam diskusi seputar bagaimana pesantren beradaptasi dengan pandemi. Meski tentunya telah memberikan pengaruh yang signifikan terhadap dunia pendidikan indonesia khususnya, pandemi tentu saja menyisakan beberapa hal positif untuk pengembangan metode dan pola pendidikan kita.

Berdasarkan keterangan dari para pimpinan, dan juga observasi yang penulis lakukan, ada pengaruh sikap spiritual yang mapan yang mempengaruhi mentalitas pesantren dalam bersikap tegar menghadapi pandemi Covid-19. Ini hal yang menarik untuk dikaji, yakni bagaimana spirit keagamaan tersebut bisa menjadi ‘benteng’ pertahanan melawan pandemi. Dua hal ini menjadi strategi penting pesantren dalam menghadapi badai pandemi sehingga santri tetap bisa melaksanakan tradisi belajar mereka.

Fokus Masalah

Dari uraian tersebut penulis ingin melihat bagaimana strategi pesantren dalam meneguhkan proses pendidikan santri terutama saat pandemi? Kekuatan spiritual yang dimilki oleh pesantren telah mendorong lembaga pendidikan tersebut dengan penuh percaya diri tetap melaksanakan pembelajaran secara luring di pesantren. Kemudian, bagaimana kematangan spiritual menjadi satu faktor yang mendorong kepada penguatan imunitas, serta dengan konsekuensi operasionalisasi pendidikan pesantren secara tatap muka telah melahirkan pola karantina komunitas sebagai model karantina menghadapi pandemi. Bagaimana hal ini dilakukan pesantren?

Teori dan Metode penelitian

Sebagai kerangka teoritik yang akan membantu pemetaan lokus masalah tulisan ini, akan diguanakan konsep tradisi pesantren yang ditulis oleh Zamkhsyari Dhofier. Kerangka Dhofier akan digunakan untuk menggambarkan tradisi-tradisi yang berkembang di pesantren. Pemetaan ini kemudian digantungkan dalam sudut pandang teori strategi dalam dunia pendidikan.

Adapun metode penelitian yang digunakan dalam tulisan ini adalah metode riset kualitatif dengan menggunakan paradigma fenomenologi. Melalui wawancara, dokumentasi, dan observasi, penulis akan mengelaborasi bagaimana strategi pesantren menghadapi pandemi covid 19 yang mana dalam observasi awal peneliti menunjukkan pada dua hal besar, yakni mendorong penguatan imunitas para santri maupun guru, dan penerapan pola karantina komunitas di pesantren.

Objek riset dalam tulisan ini adalah pondok pesantren Thohir Yasin yang terdapat di desa Lendang Nangka, Kecamatan masbagik, Kabupaten Lombok Timur. Pemilihan objek riset ini utuk memantapkan hasil penelitian dengan data yang valid mengingat untuk menjangkau banyak pesantren masih sulit dilakukan.

Hasil Penelitian

Penelitian berkesimpulan bahwa ada dua hal mendasar yang diterapkan pesantren dalam melawan pandemi covid 19 guna menjaga eksistensi proses pendidikan di pesantren, yakni dengan penguatan imunitas dan karantina komunitas. Penguatan imunitas dilakukan dengan mematangkan spiritual santri (benteng spiritual) seperti: konsistensi membaca Al-Quran, kajian kitab, siraman rohani dari kiyai, dan sholat tahajjud berjamaah. Kedua, pesantren melalui konsep asramanya secara tidak langsung telah menerapkan model karantina komunitas, yakni suatu karantina massal. Pola ini dibentuk dengan menjaga interaksi santri secara umum dengan pihak luar (termasuk orang tua mereka). Model ini menarik karena santri tetap bisa menjaga kesehatan mereka bersama santri lain tanpa khawatir tertular karena berada di lingkungan yang sama tanpa bersentuhan dengan dunia luar.

Penelitian ini menunjukkan bahwa kematangan spiritual pesantren telah membantu pondok pesantren dalam menguatkan imun para santri, dan juga konsep asarama telah menjadi pola karantina komunitas yang efektif sehingga mampu bertahan dalam badai pandemi ini. Apa yang menjadi temuan riset ini memang berangkat dari satu pesantren, tetapi penulis berkeyaknian (sebagai alumni pesantren), bahwa pesantren-pesantren yang lain juga memiliki pola yang sama tentang hal ini.  Dengan demikian, pesantren melalui kematangan spiritualnya bisa mendorong para santri untuk menguatkan imunitas mereka dan mengkarantina mereka secara komunitas.

Penulis

Muhamad War’i, Alumnus Ma’had Darul Quran Wal Hadits Almajidiyah As-Syafi’iyah NW Pancor dan Alumni Program Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Jurusan Interdisciplinary Islamic Studies. Saat ini fokus di kajian Bahasa dan Sosial Keagamaan. Tercatat sebagai Dosen di Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Darussalimin NW Praya Lombok Tengah dan Pengajar di Pondok Pesantren Thohir Yasin Lombok Timur. Penulis bisa dihubungi melalui email:  akmaly.warok@gmail.com 

Post a Comment for "Contoh Penulisan Executive Summary untuk Konferensi Ilmiah dan Akademik"