Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Desa Wisata Lendang Nangka; Wisata Alam, Budaya, dan Religi

Bupati Lombok Timur, Menerbitkan Surat Keputusan (SK) tentang Desa Wisata di Kabupaten Lombok Timur tertanggal 8 Juli 2021. Sebanyak 91 Desa dikukuhkan sebagai desa wisata, salah satu diantaranya adalah desa Lendang Nangka. Dalam tulisan ini saya akan mengulas secara ringkas aktivitas wisata apa saja yang bisa dilakukan di desa tersebut. Beberapa keterangan ini bisa jadi merupakan sebuah tawaran kepada pemerintah desa Lendang Nangka sebagai acuan untuk pengembangan desa wisata Lendang Nangka ke depannya.

Sebagai desa yang berusia cukup tua, Desa Lendang Nangka sejatinya telah cukup populer baik di tingkat Kabupaten, Provinsi, bahkan Nasional. Telah berjejer berbagai penghargaan yang ditujukan kepada desa ini, bahkan tahun-tahun sebelum pandemi, desa Lendang Nangka kerap dikunjungi oleh berbagai organisasi ataupu pemerintah desa dari berbagai wilayah di Indonesia. Rerata mereka mengadakan studi banding dalam rangka pengelolaan BUMDes, serta potensi lain yang dimiliki.

Dalam konteks Desa wisata, Lendang Nangka juga tidak kalah menyimpan aset-aset pariwisata. Penulis mencoba menelaah tiga aspek aktivitas wisata yang bisa dilaksanakan di Desa Wisata Lendang Nangka.

Pertama, wisata alam. Tentu telah lumrah bagi para pembaca, bahwa Lendang Nangka terkenal dengan wisata alam sumber mata air yakni Otak Aik Tojang, yang terdapat di daerah sebelah utara desa Lendang Nangka. Air yang kebiruan menjadi view khas dari tempat indah tersebut. Sebenarnya, tidak hanya Otak Aik Tojang yang bisa menjadi potensi wisata alam di desa ini, memanfaatkan lahan-lahan persawahan yang masih terbentang di Wilayah Kekadusan Bajang bisa menjadi opsi aktivitas wisata Alam yang mungkin bisa dipadukan dengan kuliner khas masyarakat pedesan.

Rumah makan berlatar terasiring persawahan yang hijau telah banyak menjadi opsi pengembangan wisata alam di berbagai daerah lain. Prian dan Loyok diantara daerah yang sudah menerapkan hal itu. Ini bisa ditiru oleh Desa Wisata Lendang Nangka untuk menambah pola aktivitas wisata alam di desa tersebut.

Kedua, Wisata Budaya. Bagian ini juga tidak kalah menarik, secara rutin pada waktu-waktu tertentu Desa Lendang Nangka selalu mengadakan berbagai ritual adat yang menyiratkan nilai-nilai kebudayaan. Maulid Petagan, Selametan Mata Air, Bisok Puseke, diantara tradisi kebudayaan yang layak menjadi daya tarik pengembangan pariwisata berbasis budaya.

Ketiga, Wisata religi. Bagian ini menurut saya sangat potensial, ini mengingat Desa Lendang Nangka yang belakangan semakin ramai dbanjiri oleh para santri yang datang dari berbagai daerah baik dari dalam pulau Lombok maupun luarnya. Pondok Pesantren Thohir Yasin Desa Lendang Nangka adalah tujuan para santri tersebut. Tambahan pula, tradisi Pembuatan Minyak Obat Hifziyah pada perayaan Dzikrol Hauliyah (Ulang tahun) Pondok Pesantren menjadi magnet yang mampu menghadirkan ribuan jamaah mengunjungi desa Lendang Nangka. Kenyataan ini bisa dimanfaatkan sebagai daya tarik wisata religi dengan mengemas desa wisata Lendang Nangka sebagai Desa Santri misalnya. Ini semacam mengemas Kota Kediri dengan “Kota Santri”. Artinya dengan menggunakan istilah khas yang mewakili aktivitas wisata desa, akan lebih mudah diingat oleh pengunjung.

Selain konsep desa santri, keberadaan makam atau petilasan Keturunan Raja Selaparang di Pemakaman Umum Kubur Timuk Desa Lendang Nangka, bisa menjadi opsi kunjungan wisata religi. Dengan publikasi yang mumpuni dan massif, makam dengan ciri punden berundak yang ada di pemakaman umum tersebut bisa jadi akan pupuler dikunjungi seperti populernya beberapa makam serupa di pulau Lombok, misalnya Makam Selaparang, Makam Loang Baloq, Makam Wali Nyatok, dan lainnya.

Tiga poin tersebut adalah diantara opsi yang bisa dikembangkan, bisa saja mengeksplorasi hal lain yang pastinya masih banyak terpendam. Pada prinsipnya, status ‘Desa Wisata Lendang Nangka’ perlu disikapi serius oleh pemerintah desa sebagai peluang pengembangan potensi desa yang lebih maksimal guna menyongsong masyarakat desa yang mandiri. Semoga ‘desa wisata’ yang kini melekat pada penulisan nama ‘Lendang Nangka’ bisa menjadi salah satu motivasi guna benar-benar mendorong desa tersebut sebagai salah satu opsi tempat berwisata, bukan hanya sebatas pajangan nama semata. 

Post a Comment for " Desa Wisata Lendang Nangka; Wisata Alam, Budaya, dan Religi"