Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Bagaimana Manusia Bertindak? (Review Buku Filsafat Moral James Rachels)



Dalam kehidupan sosial, manusia membutuhkan satu perangkat yang mengatur intraksi mereka dalam setiap hubungan kehidupan. Yaitu seuatu aturan dimana dia berada dalam di atas diri manusia secara individu dan sosial. Perangkat itu adalah moral. Moral yang secara devinitif masih menjadi perdebatan di kalangan filosof menjadi isu yang menarik terlebih pada masa modern ini. Namun demikian, moral dengan apapun dia diterjemahkan, meruapakan hal yang harus selalu ada untuk menjadi kompas kehidupan manusia.

Dalam bukunya, Filsafat Moral, James Rachels mengelaborasi tentang moral dengan mengupas tokoh dan pokok ajaran mereka. Dalam tradisi filsafat moral ada beberapa aliran yang memperdebatkan hakekat moralitas. Menurut James, dari sekian banyak aliran dalam filsafat moral, mereka bisa diklasifikasikan dalam empat aliran besar yaitu, egoisme psikologis, utilitarianisme, kontrak sosial dan teori Kant. di bawah akan dibahas secara sekilas keempat aliran ini.

Dalam memandang moralitas, kelompok pertama yakni egoisme psikologis, mengatakan bahwa hakikat segala perbuatan manusia itu adalah dalam rangka pemenuhan keinginan-keinginan individual mereka. artinya, seseorang hidup memiliki misi untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka secara individu, dan bahkan dibolehkan untuk menyakiti orang lain dalam rangka memuskan diri. Model filsafat seperti ini dipandang memiliki kelemahan, bahwa golongan ini tidak memperhatikan bahkan menapikan posisi manusia sebagai mahluk sosial.

Kedua, golongan dalam filsafat moral itu adalah utilitarianisme. Paham ini merupakan paham yang memiliki pandangan bahwa pandangan atau jalan hidup seseorang harus berdasarkan pada kemampaatan orang lain. Dalam pandangan filsafat ini, seseorang tidak boleh bertindak menurut kemauan pribadi yang bisa mengganggu kepentingan orang lain. Paham ini menekankan untuk seseorang bertindak berdasarkan pada kemaslahatan orang lain. Seseorang boleh membunuh dirinya asalkan itu demi kepentingan halaayak umum. Inti dari filsafat ini tidak ubahnya menjadikan manusia seperti lilin. Tidak apa-apa diri meleleh dan hancur asalkan orang lain tercerahkan melalui dirinya. Pandangan ini tentulah tidak menghargai eksistensi individu seseorang.

Kemudian yang ketiga adalah kontrak sosial. Dalam pandangan filsafat ini, manusia harus bertindak berdasarkan kontrak sosial yang sudah ada dalam suatu komunitas masyarakat. misalnya dalam suatu negara, semua orang harus tunduk pada aturan kenegaraan apakah itu bersifat konstitusional maupun kultural. Kontrak sosial mengingatkan manusia untuk bertindak lebih menghargai orang lain. Misalnya seorang yang hidup dalam suatu negara yang menganut paham demokrasi, tidak seharusnya menjadi golongan yang anti demokrasi dan merusak ketenangan hidup dalam suatu negara tersebut, karena secara kontrak sosial, ketika negara telah lahir dengan segala aturan yang ada di dalamnya, maka seluruh rakyat yang bernaung di bawahnya harus patuh pada aturan-aturan kenegaraan. Jika dia bertindak subversif, maka dia boleh dikatakan sebagai penghianat kontrak sosial yang telah disepakati secara imformal oleh seluruh masyarakat negara itu.

Kontrak sosial dengan demikian, tentulah hal yang mementingkan hubungan kemasyarakatan (intraksi sosial) diri seseorang. Seseorang harus bisa menghargai suatu konvensi masyarakat pada komunitas tertentu ketika dia telah memutuskan untuk menjadi bagian dalam komunitas tersebut. tidak patut bagi seorang yang menyerahkan eksistensi hidupnya dalam suatu komunitas kemudian bertindak subversif atas aturan yang berlaku. Kontrak sosial, bukanlah aturan formal yang memiliki bukti kongkrit, tapi dia lebih pada aturan moral yang bersifat norma, hadir sebagai ruh dalam intraksi sosial suatu komunitas masyarakat.

Keempat, aliran dalam filsfat moral adalah aliran Immanuel Kant, seorang filosof yang banyak berbicara filsafat moral (etika). Dia terkenal dengan teori etikanya. Baginya seseorang hidup harus memiliki etika untuk mengawal hidup mereka secara individu maupun kelompok. Dalam pandangan Kant, kebenaran tidaklah ditentukan oleh diri, orang lain maupun suatu kelompok tertentu, tapi kebenaran itu sudah ada pada diri seseorang sejak dia lahir. Dari pandangan ini, satu-satunya hal yang tidak bisa ditolah dari seseorang secara moral menurut Kant adalah “kehendak baik.” Pandangan Kant ini sejatinya banyak dipengaruhi oleh pemahamannya yang kuat tentang agama, sehingga ia dikatakan sebagai penyelamat agama ketika paham keagamaan dipandang tidak relevan jika dihadapkan dengan filsafat rasionalisme.

Secara substansial, bisa dikatakan bahwa jika dalam kajian filsafat Moral, aliran Immanuel Kant ini mencoba keluar dari pandangan Egoisme Psikologi, Utilitarianisme maupun kontrak sosial, karena ketiga aliran tersebut menilai bahwa ada satu kebanaran yang dijadikan sebagai moralitas untuk menjadi ukuran pada tindakan manusia. Berbeda dari ketiga aliran tersebut, Kant justru mengatakan bahwa kebenaran itu hanya ada dalam diri yang suci. Yaitu diri yang senantiasa memperbaiki dirinya melalui pensucian hati. Dari pandangan ini muncullah istilah kebaikan atau kebenaran yang bersumber dari intelegensia seseorang. Kant berpandangan bahwa intelegensia seseorang akan terlahir dari sesucian hati sebagai dasar dari kebaikan moralitasnya.     

 

Identitas Buku

Judul               : Filsafat Moral

Penulis            : James Rachels

Penerbit           : Pustaka Filsafat

Tahun              : 2004


Sumber gambar: https://virlenda.unipasby.ac.id/ 

 

Post a Comment for " Bagaimana Manusia Bertindak? (Review Buku Filsafat Moral James Rachels)"