Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Rinjani dan Kemerdekaan yang Hakiki

Kisah ini adalah kisah lama (2013) yang menceritakan tentang pertama kalinya saya mendaki Gunung Rinjani. Di hari kemerdekaan ini saya mengupload tulisan ini karena begitu membekas rasanya saat mendaki pertama dan sampai di puncak tertinggi. Sesuatu yang mungkin sedikit merepresentasikan arti kemerdekaan yang hakiki?  

Pada hari yang telah ditentukan, kami bersiap untuk mendaki gunung tertinggi di pulau kami, Rinjani yang anggun. Meski aku tak mengerti keadaan yang akan ku taklukkan, aku begitu bersemangat mengepal tekadku dalam rasa penasaran untuk memeluk Rinjani sekaligus melepas penat nantinya di pantai Danau Segara Anak.

Perjalanan di mulai. Hari itu begitu cerah, kami di sambut mentari dengan sambutan yang hangat, membuat hatiku berdering dalam semangat yang menggebu, akupun berbisik dalam jiwaku, ini saatnya berpetualangan.

Kami memasuki pintu gerbang masuk yang tertulis diatasnya, “Taman Nasional Gunung Rinjani”, mengisyaratkan kita sudah masuk dalam sebuah goa yang kami tak ketahui keadaan di dalam gua tersebut. Langsung kaki kami bergelut bersama debu jalanan yang tercipta dari pertemuan rutin antara mentari dan daratan itu, seperti bubuk coklat yang berserakan, memberikan warna coklat pada kaki-kaki kami.

Keenam orang itu kini telah masuk jalur yang sekaligus menandakan pengelanaan di lereng gunung Rinjani telah dimulai, Aku tampil dengan baju lengan panjang, sementara Togik dengan kaos wayang kesukaannya, Oding si manja, tampil memakai jaket, yang nantinya ia rasakan jaket itu seperti pakaian api, maklum panas.. sementara Sindang yang sudah gk perjaka lagi, bin alias sudah menikah, tampil dengan kaos biasa dengan celana seperempat.

Kamipun sudah menebak bahwa Sindang akan menghambat jalan nantinya, maklum tenaga orang tua. Kemudian Si Saen, anak yang sangat senang lelucon tampil juga dengan kaos dan celana pendek, adapun yang terakhir adalah Basri, si simple, hanya memakai celana pendek bola dengan kaos yang menempel kelihatan kusam serta dengan menggunakan alas sandal jepit.. hoho.

Semua membawa bekal untuk tinggal di atas gunung nantinya. Perlahan kami mulai hilang dari keramaian pemukiman hingga Nampak di depan kami padang pegunungan yang meluas sepanjang penglihatan, tamparan kegersangan tempat itu begitu terasa di pelipis kami, seakan merupakan sambutan yang tidak nyaman oleh nya, namun tidak mengurangi semangat kami untuk menjelajah gunung yang sudah tidak asing bagi orang-orang luar negeri, itu terlihat dari beberapa turis mancanegara yang kami temukan saat berpapasan di jalur berdebu itu.

Selang beberapa waktu berjalan, rasa lelah mulai menghinggapi yang tercipta dari jalur menanjak yang kami lewati sambil ditunggangi oleh panasnya mentari tengah hari, memaksa kami mengistirahatkan diri di sebuah tempat bebatuan yang merupakan sungai mati kerena dibunuh kemarau panjang.

Aku buka air di salah satu ruangan di tas yang aku bawa kemudian meneguk sejenak air itu dengan penuh emosi, kurasakan dahaga yang langsung ditampar air itu dan mengubah rasa haus menjadi kesegaran yang mendamaikan, hembusan angin kecil menari di pelipis dan wajahku, menghapus rasa penat yang tercipta dari perjlanan panjang itu, belakang aku tahu bahwa jalan yang sudah aku lewati belum seberapa.

Setelah puas mengistirahatkan tubuh sejenak, perjalanan kami lanjutkan, kini aku yang memimpin jalan di barisan terdepan, membawa rasa penasaran dari cerita yang sering didegungkan oleh teman-teman yang pernah kesana, termasuk pernyataan angin saen yang sering menggodaku dengan harapan-harapan semu atas perjalanan panjang itu degan mengatan “perjalanan sebentar lagi selesai,” hingga kalimat sebentar aku terjemahkan masih lama karena rasa lelah yang terus menggerogoti sementara apa yang dikatakan belum sampai di penglihatanku. Hingga emosiku menyambut dan meminta Saen untuk berhenti untuk mengatakan apapun yang memancingku untuk terus memburu kata-kata semunya.

Setelah cukup lama berjalan, akhirnya pos satu untuk peristirahatan kami temui, disana kami kembali melepas penat dan mulai megolah bahan yang kami bawa untuk makan siang, karena rasa lapar telah menyerang kami saat beberapa waktu menjauh dari gerbang masuk tadi. Tampil Togik sebagai tukang masak, karena diantara kami hanya dia yang paling sering kesana, hingga dialah yang paling banyak pengalamannya tentang hal itu. Dan kamipun ikut membantu hal-hal yang dibutuhkan, karena pada saat itu kami menjadi satu keluarga, melepas semua belenggu jiwa yang merasa sungkan untuk saling menyapa. Disana kami belajar persaudaraan, bagaimana saling tolong menolong dalam situasi yang sangat jauh dari belaian kasih orang tua dan rasa nyaman keluarga.

Setelah cukup beristirahat, perjalananpun dilanjutkan, karena jarak yang sudah kita tempuh belumlah seberapa, mungkin hanya dua pertiga dari perjalanan yang ada untuk menempuh tujuan, yakni danau segara anak. Jalanan panjang penuh debu seakan pemandangan abadi sejauh mata memandang, kegersangan teramat sengat menyelimuti tempat itu karena begitu jauh dari belaian air hujan, hingga yang tersisa hanyalah kegersangan memeluk jalanan di badan gunung itu.

Patamorgana yang diciptakan terik matahari di padang gersang di sepanjang perjalanan seakan setan yang menggoyangkan lidah kering dalam mulutku, menyusup dalam rasa lelah yang membelenggu badanku. Tegukan air untuk membunuh rasa haus tak pernah bertahan lama, karena selalu saja kegersangan di waktu itu memakan rasa sejuk yang seketika sampai di tenggorokan.

Menikmati pemandangan rinjani, meski dengan kegersangan yang pekat, namun tak mengalahkan pesona alam di gunung itu, barisan bukit yang setengah mengering seperti keindahan yang disajikan Tuhan untuk siapapun yang mengunjungi tempat tersebut. Kekeringan seperti salah satu aspek keindahan disana, sebuah keagungan Tuhan yang tertancap di pualauku.

Selang beberapa waktu, pos peristirahatan ke dua Nampak di penglihatan, seketika mataku langsung menatap sebuah paman pengumuman yang terbuat dari besi bertuliskan “sumber air” yang diikuti oleh tanda panah yang menunjuk ke suatu arah. Kami langsung berlari menuju arah panah yang ditunjukkan, hal itu karena kami sudah kehabisan bekal air minum sejak di perjalanan tadi. Sesampai di tempat yang di tunjuk anak panah tadi, kami harus menelan air mulut kami, karena sungguh mengecewakan, kami menemukan sumber air itu dalam keadaan rusak, sudah tercemar, bahkan airnya berbau busuk. Hal ini sangat berbeda dengan keadaan tahun kemarin, tutur togik yang memang pernah kesana tahun lalu.

Kami menyaksikan akan ulah manusia yang tak mengerti arti sebuah kelestarian hidup, manusia yang hanya memikirkan kesenangan sesaatnya, tanpa memperhatikan hari esok, hari-hari yang akan dijadikan tumpuan untuk para pengunjung gunung bernyawa itu. Kami seketika termangu dalam rasa dahaga yang membelit di tenggorokan kami, sepertinya rasa dahaga harus kami kubur dalam rasa lelah yang tak kami ketahui ujungnya itu.

Perjalanan kami lanjutkan, kini dengan dahaga dan rasa cemas, dahaga karena bekal air tinggal satu botol yang mana hal itu kami temukan di pinggir jalan tadi, begitulah kebiasaan baik yang dilakukan oleh para pengunjung gunung ini, meninggalkan beberapa makanan atau minuman di pinggir jalan untuk para pengunjung yang mungkin sangat membutuhkan hal itu. Dan kamilah pengunjung yang beruntung mendapatkan titipan bekal dari pengunjung yang tak kami ketahui itu. Dan kamipun cemas jika persediaan air itu tak sampai ke pelawangan nanti, sebuah tempat yang sangat kami impikan dan sangat ingin segera kami sampai disana.

Perputaran waktu terasa begitu lambat dalam alam jiwa kami, entah mengapa rasa dahaga dan lelah seakan menyeka langkah, seperti batu yang tergantung di siku kaki. Meski begitu lambat terasa, akhirnya waktu membawa kami ke pos ke tiga, menunjukkan pos peristirahatan sudah berakhir, kami putuskan untuk mendirikan tenda di pos ini, karena senja telah merekah di ufuk barat, dan mentari telah tertelan tebing di tempat itu.

Burung-burung hutan kembali kesarangnya, angin lembut berhembus di pelataran bebatuan sungai yang mengering, mengirim suara nyaring dari tebing sungai yang mulai disergap gelap, seketika hawa dingin semakin menyelimuti tempat itu, kami bersiap dengan baju tebal kami setelah selesai mendirikan tenda.  

Keesokan harinya, ketika sinar surya mulai Nampak mengintip di dinding tebing, terasa udara alam yang segar dan menyejukkan itu menampar sendi-sendi tubuhku, ku sambut ia dengan penuh semangat, sambil memuji Tuhan atas nikmat yang Ia berikan. Aku naik di atas gundukan tanah yang tak begitu tinggi, namun cukup untuk mencari keberadaan matahari yang sesungguhnya. Ku lihat ciptaan Tuhan yang agung itu menyungging, ku terpana dalam decak kagum yang teramat sangat, hatikupun bergetar, untuk sekian kali memuji Tuhan, hingga akupun berbisik, maha besar Allah yang telah menjadikan semua ini.

Mendekati pukul delapan pagi, kami bersiap untuk melanjutkan perjalanan. Kami persiapkan segalannya dengan sedikit tergesa-gesa karena ingin segera menyaksikan pelawangan yang konon katanya sangat indah itu. Sambil disambut sejuta kicauan burung, kami tinggalkan jejak di pos tersebut, serta perlahan menaiki gundukan tanah yang semakin lama semakin meninggi dan menyita banyak tenaga, kami saksikan di atas kami tujuh bukit berjajar untuk dilalui, akupun menyunggingkan senyum yang aku paksakan, seakan berkata: “aku akan menaklukkan mu”.

Sejurus kemudian, pertengkaran antara kami dengan bukit-bukit itu terjadi, perlahan lututku seperti digantungi batu, semakin lama semakin memberatkan, sementara bukit itu, tetap kelihatan tidak ramah sekali, kami akui rasa lelah itu, hingga kami rasakan kegeraman yang pekat tumbuh di lahan jiwa. Aku berbisik dalam jiwa dengan nada penuh amarah, “dasar bukit sialan, kapankah engkau akan habis?” Begitulah pertanyaanku muncul di sepanjang perjalanan menanjak itu.

Perlahan rasa penyesalan menghampiriku di saat kegeraman mulai membeludak dalam ruang jiwa, tidak semestinya aku menghabiskan waktu di tempat sialan ini, kenapa tidak aku manfaatkan waktu liburku untuk sesuatu yang lebih bermanfaat, ketimbang harus menjejalkan tubuh dalam rasa lelah yang tak berkesudahan ini, begitu terus-menerus kata-kata yang keluar dari mulut jiwaku, seakan memarahi gunung itu, namun sejatinya tengah bertengkar dengan diriku sendiri.

Dalam rasa jengkel itu, beberapa kali aku lemparkan penglihatanku jauh ke bawah gunung, aku saksikan pemandangan yang terhampar dibelakangku, Nampak sejauh mata memandang, hamparan hutan hijau yang mulai menguning karena tamparan kemarau namun tak mengurangi keindahannya, fenomena tersebut mengobati rasa lelahku. Sejenak setelah melakukan hal itu, kegeramanku menjadi usai dan kembali dalam semangat untuk menuntaskan tantangan. Belakangan aku mengetahui bahwa bukit itu sebagaimana yang dikatakan oleh orang-orang yang sudah mengunjungi Rinjani, adalah bukit penyesalan.

Lama dalam bukit peneyesalan, tenaga sudah hampir habis, dahaga menggelora dalam kerongkonganku, kini aku berjalan sendiri, terpisah dari rombongan. Rasa lelahlah yang telah memisahkan perjalanan kami, Saen dan Basri sudah tidak Nampak lagi yang beberapa waktu lalu masih ku lihat badan belakangnya. Togik, Sindang dan Oding, belum terlihat di belakangku, sepertinya mereka masih berkelahi dengan rasa lelah mereka di belakang bawah sana. Sejenak aku sandarkan tubuh lelahku di salah satu pohon cemara yang menyelimuti tempat itu, kudengar suara angin berhembus dengan pelan, namun sesekali mengeras dan menimbulkan suara rusuh dari dedauanan cemara yang bernyanyi, menciptakan suara tanpa nada yang berkeliaran di badan gunung, seperti teriakan supporter sepak bola saat melihat pemain yang gagal menyarangkan gol ke gawang lawannya. Tinggallah aku sendiri di salah satu badan gunung itu, mengencani alam dengan lantunan musik cemara yang ditampar angin.

Rasa dahaga semakin menari-nari di tenggorokanku, sepertinya sulit aku rasakan untuk melanjutkan perjalanan karena rasa dahaga yang teramat sangat itu, ku lepaskan pandanganku kesisi kanan dan kiriku, mencari kemungkinan adanya botol-botol yang berisi air yang ditinggalkan pengunjung sebelumnya. Pandanganku menuju sebuah kaleng hemaviton, kusambar langsung kaleng itu tanpa berpikir apakah ada air di dalam botol yang masih kelihatan baru itu.

Ku angkat botol itu, kemudian kusiapkan mulutku terbuka bersiap menerima air yang mungkin akan keluar dari botol tersebut, terasa dilidahku tersentuh air yang terasa manis, Alhamdulillah… ucapku setelah meneguk setetes air tersebut. Seketika kurasa energiku kembali pulih, kurasakan satu tetes itu seperti sebotol air yang cukup untuk memadamkan rasa dahaga. kini aku perlahan mencoba melanjutkan perjalanan yang tidak aku ketahui ujungnya itu.

Setelah mencoba melawan rasa dahaga dan lelah dengan melangkahkan kaki kembali menuju bebukitan itu, aku dapatkan kembali semangat berjalan hingga aku berhasil menempuh beberapa meter ke depan dari perjalanan itu. Namun energy itu tak bertahan lama, di sebuah titik perjalanan yang masih diselimuti rimbun cemara, kembali aku tersandar di salah satu pohon cemara, kini dengan rasa lelah yang semakin luar biasa.

Ku hapus keringat di kepala yang sesekali menetes di pelupuk mata, borgol rasa lelah semakin terasa menjepit langkah, aku ingin mundur dari laga itu, tak sanggup rasanya melanjutkan perjalan. sambil menyandarkan badan lesuku ke batang cemara, pikiranku melayang entah kemana, sepertinya mataku ingin terpejam karena rasa lelah yang bertumpuk. Air…. Gumamku sendiri, suara angin yang menari di dedaunan cemara seakan menertawakan gumamanku. Kini aku benar-benar merasa putus asa untuk bisa melanjutkan perjalanan, ku putuskan untuk menunggu, tiga orang di belakangku, berharap mendapatkan air dari mereka.

Di tengah putusnya asaku, dalam lantunan angin pagi yang menjelang siang serta kabut yang perlahan memeluk badan gunung, ku saksikan seseorang turun dari atas gunung, terlihat orang tersebut membawa beberapa barang bawaan, sepertinya seorang porter, yakni orang yang menyiapkan jasa tenaga untuk membantu membawakan barang-barang wisatawan yang ingin bebannya tak terlalu banyak.

Nampak orang itu membawa makanan berupa buah-buahan, aku langsung berpikir untuk meminta air dari orang ini. Sesampai di tempat aku bersandar tadi, orang tersebut aku hentikan langkahnya, Nampak wajah orang itu sedikit ramah, membuat aku yakin atas apa yang akan aku lakukan. Tanpa basa-basi suaraku langsung terbata-bata, “pak, boleh minta air?” sambil mataku tertuju pada sebuah botol Aqua yang terselip di ujung bambu yang menjadi alat pengangkut barang-barang tamunya, “Oh iya silahkan!” sambil menurunkan bawaannya, orang paruh baya itu memberikan maklum bahwa ia tidak bisa untuk melepas botol karena sudah terikat sangat erat dengan bambu pikulannya. kemudian ia memberikan aku minum tanpa melepas botol tersebut dari tempatnya, namun hal itu tidak membuatku sungkan untuk segera meneguk air itu, seketika dahagaku terlepas setelah tertabrak air yang kurasakan sangat sejuk itu, kembali aku mengucap syukur atas nikmat itu, Alhmadulillah… sesaat kemudian orang itu berlalu, tentunya setelah aku ucapkan rasa terima kasih kepadanya.

Kini rasa dahaga telah hilang, saatnya kembali bersemangat menaklukkan Rinjani yang anggun itu. Langkahku gontai, sepertinya beban-beban yang tadi kurasakan berupa batu-batu yang menggantung di kakiku, serta rasa dahaga yang memekik telah sirna dengan tegukan air. Aku tersenyum tipis isyarat angkuh pada bukit itu, sekali lagi aku berkat: “aku akan menaklukkanmu”.

Beberapa waktu setelah perjalanan itu, rasa lelah kembali menghampiri, ku putuskan untuk sejenak untuk bersandar di sebuah pohon kering yang Nampak seperti bebatuan runcing karena termakan waktu dan kemarau panjang. Tidak lama aku bersandar di pohon itu, ku dengar suara seperti lonceng terdengar dalam telingaku, ku temukan bahwa suara itu dari atas bukit, pandanganku mencari penuh rasa penasaran, sehingga aku lihat besi yang bertulis “Pelawangan Sembalun” tertancap di ujung bukit sana, suara Basri dan Saen terdengar jelas, hingga aku langsung terperanjat dari dudukku, kemudian berlari menaiki bukit itu, seketika rasa lelah tak ada lagi dalam benakku, pikiranku tertuju kepada dua temanku itu, sambil tertawa riang aku tetap berlari, tidak sabar rasanya untuk segera melihat pelawangan sembalun yang konon katanya sangat indah itu. Lahan yang gersang yang Nampak bubuk coklat menyelimuti sebagai bentuk dari debu yang sudah teramat lama tercengkram panas sang mentari memberikan warna coklat pekat di kakiku, aku tetap tidak peduli, hingga aku sampai di daratan pelawangan sembalun.

Sesampai di pelawangan sembalun, angin gunung begitu keras terasa, kabut putih begitu tebal menyelimuti, suara alam begitu keras yang tercipta dari benturan angin dengan tebing yang melingkar di bawahnya, yang sebenarnya tepat di depan pijakan kakiku itu adalah pemandangan indah yang menampilkan keindahan segara anak dari jarak yang jauh dan tinggi itu. Namun sayang keindahan itu tak bisa aku nikmati karena kabut tebal yang menyelimuti, membuat keindahan itu terselimut dalam bentangan awan putih yang merampas seluruh rasa penasaranku atas pemandangan alam yang konon katanya luar biasa indah itu.

Dari pelawangan, kami akan mempersiapkan pendakian ke puncak besok pagi pukul 00.30. maka kami pun mendirikan tenda di sana dan memasak untuk makan malam. Senja perlahan habis, jubah kegelapan memenuhi langit, salah satu hal indah yang bisa dinikmati di pelawangan adalah sunset yang luar biasa indah. Cahaya mentara mekar di sepanjang tebing yang terbentang, semakin indah ketika lempeng cahaya itu merebah di tenangnya air danau segara anak. Ah sungguh keindahan maha karya Tuhan yang luar biasa.

Setelah isya, kami langsung beristirahat, karena besok pagi sekali kami akan memulai perjalanan menuju puncak. Ah tidak sabar rasanya untuk segera menghadapi hari esok.

Tepat pukul 00.30 pagi, kami dengan romobongan-rombongan yang lain, bersiap untuk memulai langkah menuju puncak. Senter telah siap bagi setiap orang yang akan naik. Aku sendiri memakai senter kepala yang ku pinjam di salah satu temanku yang sering naik gunung. Target perjalanan adalah lima jam. Jadi perkiraan sampai puncak tepat pada waktu subuh. Inilah tempat indahnya mendaki, kita akan belajar memaknai jalur yang menanjakan, kita harus bisa mengontrol emosi, jika terpancing dengan kekuatan orang lain yang lebih gontai langkahnya, maka kita bisa kehabisan tenaga untuk mengikutinya.

Maka dari itu, mendaki juga bisa untuk mengetahui batas kemampuan diri. Kita belajar untuk menghargai kapasitas kita dan mensyukurinya. Karena tidak mungkin sama kuat fisik kita dengan fisik orang lain. Di antara mereka bahkan ada yang sambil berlari mendaki gunung, dan itu belum tentu bisa dilakukan oleh fisik kita, maka mengenali diri sendiri adalah pelajaran pertama dari mendaki gunung.

Setengah perjalanan, aku sudah merasakan rasa lelah yang sangat. Udara dingin tidak bisa membuatku tetap menggunakan jaket. Ku lepas jaket dan hanya menyisakan kaos lengan panjang. Beberapa orang memperingatiku untuk kembali menggunakan jaket, “hei pasang jaketmu, berbahaya nanti engkau kedinginan.” Ku biarkan saja, toh aku sendiri yang mengetahui keadaanku.

Sesampainya di tanjakan paling ujung. Jalur yang paling miring yang menghubungkan ke puncak tertinggi pulau Lombok itu, aku benar-benar kehabisan tenaga. Ku pasrahkan diri untuk ending yang akan ku alami, apakah akan selesai dan bisa ke puncak, atau mengalah dan turun kembali ke pelawangan. Di tengah rasa capek itu, aku sudah tidak melihat teman-temanku. Kami semua terpisah.

Tanpa ku komandoi, aku terlelap di jalur itu. tidak tahu berapa lama, hingga ku terbangun oleh langkah orang-orang seolah berlari.

“ayo tinggal sedikit lagi,” teriak salah satu di antara mereka. Tak ada satupun wajah yang ku kenali, hitam malam masih memenuhi langit. ketika ku lemparkan pandanganku ke atas, ku lihat puncak itu. sejurus kemudian tak ada lagi ras lelah, kakiku seolah tidak lagi mengenal pegal, seketika aku berlari mengakhiri perjuangan itu.

Sesampainya di puncak, aku langsung bersujud, melabuhkan penghambaanku kepada yang maha segalanya. Jutaan syukur ku persembahkan atas karunia nikmat sehat dan kekuatan yang Dia berikan selama perjalanan suci itu. udara dingin gunung, semakin menambah kehusukanku dalam menyerahkan diri kepada Allah.

Seseorang kemudian mengumandangkan adzan, dan beberapa di antara kami menunaikan solat subuh. Setelahnya barulah bersiap menikmati sunrise dan hanting foto. Begitu indah, dari atas sana, seluruh pulau lombok terlihat, nan elok dan eksotis. Disana nampak pula gunung agung bali yang lancip.

Sementara itu, sebagaimana yang ku lakukan di puncak gunung Panderman, aku pun tidak lupa menitipkan doa terindah untuk masa depanku, yaitu, menjadikan Mila sebagai teman hidupku selamanya.       

Setelah dari puncak, kami kembali ke pelawangan, perjalanan akan dilanjutkan menuju danau segara anak. Namun kami memilih untuk beristirahat sejenak, menunggu lelah raga pulih kembali. Jalur perjalanan menuju danau tidak sesulit sebelumnya, karena jalurnya menurun. Perjalanan kami begitu enjoy, teman-teman sepertinya tidak sabar untuk menyaksikan danau Segara Anak yang dari puncak gunung terlihat sangat indah.

Awan putih terus menyelimuti bentang alam itu, sementara keringat menyatu dengan uap air yang terbawa dari gerombolan kabut tersebut. Rasa lelah sedikit tertahan karena sunyi dari jamahan sang mentari. Beberapa jam kami harus berjalan dalam terowongan kabut yang terhampar menyelimuti setiap jalur menuju danau.

Beberapa jam kemudian, kabut mulai mereda, percikan cahaya mentari perlahan mulai terasa. Saat itu mentari sudah sepenggal senja, ia bergerak perlahan tanpa terekam langkah kami, karena tertutup kabut dan antosias jiwa. Kami sadari bahwa hari sudah mulai petang, Nampak burung hutan berkerumun mendekati tebing-tebing yang berlubang isyarat mahluk hitam akan segera tiba.

Sementara itu, perlahan mataku menangkap kumpulan warna biru yang membentang di sebuah ujung penglihatanku yang masih buram dengan kabut, semakin memacu langkah kami untuk menghampiri kumpulan warna itu. Sejurus kemudian, mataku tercengang dengan bentang alam di depanku, sebuah karya maha agung yang dipersembahkan Tuhan untukku dan kawan-kawanku.

Bentangan gunung yang mengembulkan asap panas dengan latar hutan hijau di belakangnya serta hamparan danau segara anak yang mengelilingi sisi-sisinya adalah pemandangan luar biasa yang tak pernah kusaksikan sebelumnya, kini kami mulai memasuki areal danau segara anak, dan gunung berasap itu adalah Gunung Baru Jari. Sebuah gunung yang muncul di belakang induknya dan mengambil tempat di tengah utara danau Segara Anak. Semua itu membentuk pemandangan maha agung yang terlukis melalui jari-jari Tuhan, Sebhanallah…. Pujiku untuk kesekian kalinya.

Eksotisme Rinjani telah membuat decak kekaguman bergelora dalam jiwaku. Syukur atas jutaan nikmat itu adalah hal yang senantiasa harus dipanjatkan. Pulau kecil, namun penuh dengan pemandangan yang memukau setiap mata, membuatku bangga telah lahir di belahan bumi ini, yang bagiku adalah manifestasi dari nirwana yang dijanjikan Tuhan.

Berdiri dipuncak Rinjani, menenangkan diri dengan hamparan danau segara anak yang asri, telah membuatku menyatu lebih dalam dengan negeri ini. sebuah negeri yang memang benar-benar tanah syurga. Selamat hari kemerdekaan Indonesia.


Rinjani, 2013

Post a Comment for "Rinjani dan Kemerdekaan yang Hakiki"