Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Memimpikan Kehadiran Kembali Brahmana di Tengah Sengkarut Negara

Suatu yang biasa terjadi dan seolah semakin menjadi hal yang tak lagi tabu, ketika wakil rakyat tidak bisa mengemban tugasnya dengan baik. Tidak sedikit dari mereka yang menjadi tersangka dalam kasus-kasus kriminalitas terutama yang sangat sering terjadi: KORUPSI dengan segala bentuknya. Pertanyaan mendasar yang muncul ketika melihat fenomena tersebut adalah, apa yang kurang dari wakil rakyat? Saya beranggapan bahwa prilaku amoral tersebut sangat dipengaruhi oleh tidak adanya pembimbing bagi para pemimpin kita. Pembimbing disini jika kita merujuk pada tradisi klasik Nusantara (yang bisa kita petik dari kisah kisah Mitologi seperti Mahabaratha dan Ramayana) adalah kaum Brahamana. Kini yang terjadi adalah, hilangnya peran Brahmana!

Dalam tradisi Nusantara klasik, kita akan dihadapkan pada model kelas sosial yang berlatar pada kualitas hidup seseorang. Kaum Sudra menunjukkan pada kelas sosial yang diisi oleh para pedagang, dalam pandangan modern, mungkin bisa dikatan sebagai kaum materialis. Kemudian ada kaum Ksatria ialah kaum di atasnya Sudra yang diisi oleh para pangeran dan keturuanan kerajaan. Selanjutnya adalah kaum para raja yang diisi oleh para pemimpin pada umumnya, dan yang terakhir sebagai kelas tertinggi adalah kaum Brahmana. Mereka merupakan golongan yang tidak mempedulikan materi, dia lebih sebagai penghubung tiga tingkatan dibawahnya dengan dunia para dewa.

Tradisi yang meskipun sangat mitologis ini jika diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat dewasa ini saya rasa masih cukup relevan. Pada kesempatan ini saya akan mencoba menghipotesakan bahwa akibat hilangnya peran Brahmanalah prilaku tidak wajar pemimpin kita dewasa ini.

Dalam pandangan saya, wakil rakyat yang tidak bisa seutuhnya berdiri untuk rakyat, disebabkan oleh sifat mementingkan diri dan lupa akan tugas, hal tersebut disebabkan salah satunya adalah karena tidak adanya seseorang yang bisa mengarahkannya menjadi lebih baik. Dalam hal ini saya sebut kaum Brahmana sebagai guru para Raja. Inilah yang hilang dari proses mewakili rakyat di negeri ini. Para wakil kita tidak memiliki guru yang bisa mengarahkan mereka pada koridor tugas-tugas mereka.

Sebagaimana kita ketahui, kaum Brahmana merupakan kaum yang tidak memiliki hasrat duniawi, karena keberadaannya lebih sebagai penghubung para dewa, maka disinilah peran vitalnya jika kita ingin menghadirkan Brahmana kembali pada proses pemerintahan. Karena guru yang mendampingi wakil rakyat ini adalah orang yang tidak memiliki hasrat keduniawian, maka sangat bisa dipastikan arahan yang diberikan tidak berbau koruptif. Dengan demikian salah satu cara untuk mencegah korupsi adalah dengan menghadirkan kembali peran kaum Brahmana.

Tentunya, saya tidak bermaksud menarik kembali sistem kehidupan kita kepada masa lalu, saya hanya meminjam mitologi klasik Nusantara untuk kita refleksikan pada kehidupan kita dewasa ini. Barahmana yang ingin saya hadirkan kembali ini bukanlah berbentuk seseorang yang akan menempati jabatan formal, dia lebih bermain di belakang layar sebagai pembimbing para wakil rakyat dalam mengemban tugas mereka.

Saya yakin orang-orang yang bersifat Brahma masih banyak di negeri ini, hanya saja mereka agak sulit dideteksi karena mereka lebih memilih menyembunyikan diri. Lantas bagaimana menghadirkan Brahma dalam proses pemerintahan kita? Dalam hal ini kita bisa menunjuk kepada mereka yang memiliki spiritualitas yang tinggi dan diakui. Seperti golongan ulama (yang sebenar-benarnya ulama) bagi umat Islam, Bikhu bagi kaum Budha, Pendeta bagi kaum Kristiani dan sebagainya menurut keyakinan masing-masing.

Kenapa hal ini ditarik dalam ranah ideologi? karena secara fungsional, keberadaan Brahma adalah menghubungkan raja yang materi dan sang maha kuasa yang immateri. Dengan demikian, hal tersebut akan sangat tergantung pada keyakinan dan kepercayaan seorang wakil rakyat.

Saya yakin jika para wakil rakyat memiliki guru masing-masing yang akan meluruskan mereka dalam mengemban tugas, hal-hal yang sifatnya korupsi, kolusi dan nepotisme bisa dimusnahkan dari tradisi pemerintahan kita. Maka dengan demikian, Barahmana harus kembali mengambil perannya!    


Sumber gambar: www.kppod.org. 

Post a Comment for " Memimpikan Kehadiran Kembali Brahmana di Tengah Sengkarut Negara"