Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Backpacker yang Ramah Sosial

Istilah backpacker atau beberapa orang mengatakan bagpacker belakangan ini mulai trend dan sering dilakukan oleh para pemuda maupun masyarakat umum, dengan tujuan wisata ataupun hanya ingin menikmati aktifitas backpacker itu sendiri. Banyak sekali rekan-rekan saya yang sering melakukan aktifitas tersebut, katanya, “backpacker itu seru. di samping murah kita juga bisa menikmati banyak hal sepanjang perjalanan.” Saya masih belum tahu seperti apa maksudnya “menikmati banyak hal sepanjang perjalanan.”

Salah satu kenyataan yang sering saya temui pada orang-orang yang sering melakukan aktifitas backpacker adalah mereka hampir bisa dipastikan membawa alat-alat teknologi untuk menghibur diri mereka selama diperjalanan, atau hanya untuk menghilangkan kebosanan. Alat-alat itu mulai dari handphone yang dilengkapi dengan banyak game, alat-alat pemutar musik instant, dan sebagainya. Semua itu menjadi pemandangan yang biasa kita dapatkan setiap menyaksikan orang-orang yang melakukan aktivitas backpacker.

Melalui tulisan ini saya ingin mengemukakan pendapat saya, bagaimana seharusnya seorang backpacker. Jika seorang backpacker ternyata telah penuh dengan alat-alat teknologi mereka, yang dengannya dia sama saja menambah individualitas mereka selama di dalam alat transportasi yang digunakan. Aktivitas backpacker seharusnya membawa orang atau mengajarkan orang bagaimana untuk bertingkah lebih sosialis, karena aktivitas tersebut menambah data sosial dalam diri seseorang.

Bayangkan saja, misalkan seorang backpacker menggunakan bis, dengan rute Malang-Jakarta, maka dia akan berbaur dengan banyak orang dengan latar yang beranekaragam di dalam Bus selama lebih dari 10 jam. Tentunya akan terjadi banyak interaksi sosial di dalamnya, mulai dari aktivitas pengamen, pedangang asongan, para pengemis dan banyak sekali lainnya. Semua itu bisa mendidik seseorang untuk menjadi lebih peka terhadap realitas sosial.

Namun demikian, jika apa yang dilakukan oleh para backpacker belakangan ini selama dalam perjalanan mereka, yakni dengan menutup telinga dengan headset, menutup mulut dengan masker, sibuk sendiri dengan gadged-nya, itu sama saja artinya dengan orang yang memesan tiket pesawat kelas eksekutif yang menghabiskan waktu selama perjalanan dengan tidur.

Backpacker secara historis adalah salah satu cara para tentara untuk mengepack barang-barangnya menggunakan ransel, yang sebelumnya menggunakan koper. Hal itu dirancang untuk kemudahan para tentara dalam melakukan perang. Jadi sejatinya backpacker itu, tentang berperang melawan individualitas kita untuk melebur dalam realitas sosial manusia modern yang semakin kompleks.

Untuk mewujudkan aktivitas backpacker yang lebih “ramah sosial,” saatnya kita mengganti alat-alat elektronik yang sifatnya hedonis individualis dengan aksesoris-aksesoris permainan yang bisa menjadi perantara untuk melebur bersama orang-orang yang satu perjalanan dengan kita. Kartu domino atau poker, bisa menjadi salah satu alternatif untuk mengganti gadget yang bersifat individual.

Dengan membawa alat-alat permainan yang bisa memfasilitasi intraksi sosial di dalamnya, kita telah menjadi seorang backpacker yang ramah sosial, hal ini pada kelanjutannya akan membentuk pribadi yang mengerti keadaan sosial masyarakat dengan lebih baik dan mendalam sehingga akan nampak makna sebenarnya dari “menikmati banyak hal sepanjang perjalanan.”   

Post a Comment for " Backpacker yang Ramah Sosial"