Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Arti Produk Berlogo RSPO untuk Masa Depan Bumi

Masih sangat mengkhawatirkan kabut asap yang hingga saat ini menyelimuti beberapa kota di Kalimantan dan Sumatera. Korban nyawapun sudah ada yang melayang. Perdebatan demi perdebatan untuk mendapatkan solusi semakin gencar dilakukan. Namun demikian manusia sudah terlanjur rugi dengan telah hilangnya ribuan hektar hutan yang seharusnya berfungsi sebagai paru-paru dunia dan habitat mahluk hidup selain manusia.

Selain persoalan kesehatan dan geologi, kabut asap juga telah memicu ketegangan politik antara negara Indonesia dengan beberapa negara tetangga. Hal ini tentu saja patut dibicarakan serius agar komunikasi internasional tetap terjaga dengan baik serta agar masa depan bumi tetap cerah di masa yang akan datang.

Hal yang sudah umum diketahui menjadi penyebab terjadinya kabut asap saat ini adalah adanya pembakaran hutan secara sengaja oleh beberapa korporasi sawit yang ingin membuka lahan untuk menambah jumlah lahan produksi. Hingga saat ini di Kalimantan ada empat (dari sepuluh terduga) perusahaan besar yang telah ditetapkan sebagai tersangka kasus pembakaran lahan tersebut (Kompas, 15/10/15). seluruh perusahaan itu bergerak dalam bidang  produksi kelapa sawit.

Kenyataan ini membuat kita prihatin, bahwa beberapa orang dalam upaya melakukan produksi kebutuhan manusia, telah memilih jalan yang instan sehingga lupa pada keberlangsugan ekosistem yang lebih baik dan stabil. Untuk itu dibutuhkan solusi kongkrit untuk mengantisipasi dan mencegah berlangsungnya “kerakusan” korporasi tersebut. terkait hal ini ada beberapa langkah yang cukup penting dilakukan dalam upaya melawan “perusakan” bumi melalui modus produksi bahan pokok.

Langkah konstitusional

Pemerintah dalam hal ini wajib menindak secara tegas korporasi yang melanggar aturan berupa pembakaran hutan. Sanksi yang berat sangat diperlukan agar menimbulkan epek jera, bahkan jika perlu korporasi yang sudah jelas melakukan kejahatan itu dicabut izin operasionalnya secara permanen. Di sisi lain upaya penekan korporasi “nakal” itu hendaknya diikuti dengan memberikan dorongan konstitusional terhadap korporasi yang mengusung prinsip go green. Yakni perusahaan-perusahaan produksi yang memiliki kepedulian lingkungan hidup sehingga dalam produksinya tidak justru merusak dan mengganggu stabilitas habitat mahluk hidup yang lain.

Sanki sosial

Selain hukuman secara konstitusional, sanksi sosial juga penting diberikan kepada korporasi terkait. Sanksi semacam ini bisa dilakukan oleh masyarakat sebagai konsumen barang-barang yang diproduksi oleh korporasi-korporasi tersebut. Bagaimana caranya? Yakni dengan menyeleksi merek-merek dagang mereka dan memblack list-nya sehingga menekan mereka secara sistem ekonomi. Terkait hal ini pemerintah perlu untuk mempublikasikan korporasi–korporasi yang sudah jelas bersalah secara terang-terangan agar masyarakat mengerti mana perusahaan yang baik dan yang “nakal” dalam melakukan produksi.

Dengan mengetahui merek dagang mereka, konsumen haruslah cerdas dalam memilih mana produk yang pantas dibeli dan yang tidak. Sebagaimana dikatan oleh Kotler (sangadji dan sopiah, 2013: 323), bahwa merek merupakan identitas perusahaan yang memiliki fungsi budaya dan karakter dimana hal tersebut bertujuan untuk menarik konsumen. Jika merek yang baik bisa menarik konsumen untuk menggunakan produknya, maka demikian pula sebaliknya, merek yang buruk sudah seharusnya ditolak dengan tidak membelinya.

Dalam hal ini konsumen (pembeli) menjadi bagian penting sistem ekonomi dalam upaya menekan laju produksi perusahaan nakal. Artinya masyarakat harus cerdas dengan tidak membiarkan peluang kepada perusahaan bersalah untuk eksis dalam pasaran produksi bahan pokok dalam hal ini minyak kelapa sawit misalnya. Model ini semacam penoptican dalam konsep Michel Foucault, yaitu sebuah konsep dimana satu bagian dari sistem sosial menjadi pengawas “prilaku nakal” bagian-bagian sosial lainnya. Jika dalam masalah ini, maka pembeli menjadi pengawas terhadap prilaku para produsen nakal dengan menyeleksi barang mereka di pasaran.

Memilih produk yang baik

Setelah melakukan penolakan terhadap produk-produk yang tidak baik selanjutnya pilihan konumen dialihkan kepada produk-produk yang jelas memiliki sistem yang konservatif terhadap eko sistem serta yang memiliki konsep energi terbarukan. Dengan memilih produk perusahaan yang seperti itu kita telah berusahan untuk mencintai bumi dengan berhenti merusaknya untuk kepentingan perut semata.   

Salah satu cara untuk mengetahui mana produk yang berbasis konservasi lingkungan dengan yang tidak adalah dengan mengecek logo RSPO di merek dagang suatu prusahaan.  RSPO (Roundtable on Sustainable Palm Oil) adalah  organisasi nirlaba yang menyatukan para pemangku kepentingan dari tujuh sektor industri minyak sawit, yakni: produsen kelapa sawit, pemroses atau pedagang kelapa sawit, produsen barang-barang konsumen, pengecer, bank dan investor, LSM baik LSM pelestarian lingkungan, konservasi alam, dan sosial. RSPO berkomitmen untuk mengembangkan dan mengimplementasikan standar global untuk minyak sawit berkelanjutan. Dengan demikian kini kita gampang saja untuk membantu pemerintah dalam upaya menekan dan memberikan sanksi sosial kepada para perusahaan nakal yakni dengan memilih produk yang baik.

Sekarang kita sudah mengerti bahwa untuk menjaga lingkungan hidup, kita butuh memakai produk-produk yang berbasis konservasi lingkungan dan mengusung prinsip energi terbarukan. Maka dari itu mari kita ganti produk kita dari produk perusahaan yang tidak mempedulikan lingkungan hidup ke produk yang lebih ramah lingkungan. Ini adalah langkah kongkrit untuk menjaga stabilitas bumi yang merupakan satu-satunya warisan abadi bagi manusia untuk masa-masa yang akan datang.

Post a Comment for "Arti Produk Berlogo RSPO untuk Masa Depan Bumi "