Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Ramadhan dan Nasehat Pernikahan

Relasi lelaki perempuan, dalam sejarah panjang umat manusia sering kali muncul dalam bentuk ketimpangan, ketidakadilan, dan superioritas dimana lelaki selalu menjadi yang lebih. Adapun perempuan, tersublimasi, terkooptasi, bahkan sering terpinggirkan (sublatern) dalam dinamika kehidupan manusia. 

Padahal, perempuan adalah roda utama perjalanan panjang manusia. Tanpa ibu yang melahirkan, dunia hanyalah seonggok cerita yang melapuk. Tulisan ini akan membicang hubungan suami istri dalam konteks bulan Ramadhan yang berasas pada interpretasi terhadap surat Al-Baqarah ayat 187.

Para ibu pastilah mengerti betapa berbedanya bulan ramadhan, terutama dalam hal kesibukan di dapur. Tidak banyak yang menyadari bahwa seringkali perempuan terpasung dalam ketidakadilan bahkan di tengah keberkahan bulan suci sekalipun. Lihatlah, bagaimana kita sering kali menzolimi mereka, dengan menuntut mereka untuk memasak lebih enak dari biasanya, hidangan yang lebih banyak dari biasanya, menyiapkan makanan pembuka dan penutup, serta berbagai hal lain yang tak sedikitpun memiliki urgensi dalam membangun ramadhan yang bernilai secara spiritual. Padahal mereka juga berpuasa! Tidakkah mereka juga merasakan lelah seperti yang dirasakan kaum lelaki?

Dari kenyataan ini, penulis ingin mendiskusikan bagaimana sejatinya Islam melihat prempuan terutama yang terkait dengan momen Ramadhan. Dalam al-Quran surat 2: 187 disebutkan: “dihalalkan bagimu pada malam bulan puasa untuk menggauli istrimu, mereka adalah pakain (libas) bagimu dan kalian adalah pakaian bagi mereka....”. dalam ayat ini menarik membincang redaksi yang Allah gunakan untuk menggambarkan relasi lelaki-perempuan. Dalam ayat ini kata kunci pentingnya adalah libas. Lelaki adalah libas bagi perempuan dan perempuan adalah libas bagi laki-laki. Ini yang bisa kita simpulkan dari penggalan ayat tersebut.

Mengapa menggunakan libas? Penulis melakukan penelusuran linguistik terhadap kata tersebut, ada bermacam makna, diantaranya: sakanun yang berarti ‘tempat tinggal’ atau ‘ketentraman’, ilhaf ‘selimut’, ta’anuq ‘saling memeluk’. Jika kita lihat, makna libas mengacu kepada sesuatu yang menggabungkan dua hal. 

Ketika bermakna pakaian, maka tentu ada pakaian dan ada yang memakainya, ketika bermakna selimut, tentu fungsi selimut akan terlihat ketika digunakan, dan dalam ‘saling memeluk’, tentu tidak akan terjadi jika tidak terdiri dari dua orang. Dengan demikian, makna libas memiliki konsekuensi makna yang lebih berimbang antara lelaki dan perempuan. Hal ini bisa kita perjelas dengan membedakan ayat ini dengan ayat 220 di surat yang sama.

Quraish Shihab, dalam menafsir ayat ini memberikan komentar bahwa Allah menggunakan kata libas ‘pakaian’ untuk menunjukkan hubungan yang saling menguntungkan, seseorang tentu akan merasa tidak nyaman kalau tidak menggunakan pakaiannya, oleh karena itu baik laki-laki ataupun perempuan sama-sama membutuhkan ‘pakaian’ untuk membangun ketentraman dalam rumah tangga.

Penulis melihat bahwa kata libas memiliki dimensi makna yang tak hanya terkait dengan hubungan lelaki dan perempuan secara biologis (bersenggama), tetapi juga memiliki dimensi lain yang termasuk di dalamnya adalah wawasan gender. 

Dalam hal ini, momen ramadhan membuka pola relasi lelaki dan perempuan yang lebih berimbang, lebih manusiawi yakni dengan menyebut bahwa perempuan adalah pakaian bagi laki-laki dan sebaliknya, laki-laki adalah pakaian bagi perempuan. kita bisa merasakan sendiri ketika baju terasa nyaman dipakai, maka kita akan cendrung untuk terus menggunakannya, dan kita pun tidak lupa merawatnya. Mencuci dan menstrikanya.

Begitulah seharusnya kita dengan pasangan kita, menjaga dan merawatnya. Karena dia adalah pakaian, semilut, ketentraman bagi kita, maka sudah sepantasnya kita memberikan yang terbaik bagi pasangan hidup kita. Ada banyak cara (wahai para suami) untuk menghargai pasangan hidup kita, membantu mereka menyelesaikan tugas rumah, membantu membeli kebutuhan pangan, memberikan mereka uang saku untuk dirinya, serta menjaga perasaannya agar terus bahagia. 

Demikian juga kepada istri, penting untuk memberikan pandangan kepada suaminya tentang tanggung jawab yang harus dipikul besama, jangan melankolis sendiri dan membatin sendiri, lalu curhat di media sosial tentang aib suami. Jangan! Bangunlah hubungan rumah tangga yang saling menghargai, saling mengasihi agar senantiasa dalam balutan sakinah, mawaddah wa rahmah. Amin.        

Post a Comment for "Ramadhan dan Nasehat Pernikahan"