Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Ibu Mudjiem, Cinta dan Dedikasi Pendidikan yang Tak Bertepi

Perjalanan sejarah pendidikan di desa Lendang Nangka, terutama pada masa tahun 70an hingga 90an, masih terhitung terseok sebagaimana situasi nasional pada saat itu. Dalam gelombang arus pendidikan yang tak stabil itu, ada satu nama penting yang tak boleh dilupakan dalam bentang sejarah pendidikan di desa Lendang Nangka, terutama bidang pendidikan anak usia dini. Adalah Ibu Mudjiem, salah satu tenaga pengajar legendaris yang dimiliki desa Lendang Nangka. Menurut catatan, Ibu Mudjiem mulai bertugas di desa Lendang Nangka sejak tahun 1977 M.

Meski bukan asli orang Sasak, Ibu Mudjiem tetap tulus mendedikasikan dirinya dalam dunia pendidikan masyarakat Lombok. Mungkin memang seperti itulah orang-orang yang telah tulus dan tumbuh dalam semangat mendidik yang tinggi. Datang dari pulau Jawa, Ibu Mudjiem langsung menjadi aktivis pendidikan yang keberadaannya sangat penting di masa itu.

Memulai karir menjadi guru di SDN 1 Lendang Nangka, kemudian lebih fokus menjadi guru di sekolah pendidikan dini. Terhitung 32 tahun waktu yang dihabiskan Ibu Mudjiem untuk menghentak pikir dan daya pandang masa depan anak-anak desa Lendang Nangka. Di jiwa-jiwa anak-anak seputar 70an, 80an, 90an, namanya barangkali tidak akan pernah lekang oleh waktu. Mereka senantiasa mengukir dan mengabadikan nama guru tersebut dalam sanubari.

Dengan ruang waktu yang dihabiskan untuk mengajar, Ibu Mudjiem lahir sebagai seorang aktivis pendidikan yang sangat cemerlang. Gagasan-gagasan briliannya mewarnai perkembangan pendidikan anak usia dini di desa tersebut. Semua pendidikan dini di desa Lendang Nangka pernah mendapatkan sentuhan tangan profesionalnya, TK Dharma Wanita, TK Islam Thohir Yasin dan Kelompok Belajar Gagar Mayang misalnya, tiga lembaga pendidikan anak usia dini yang sempat menggunakan jasa intelektualnya.

Dedikasinya yang luar biasa di dalam dunia pendidikan terekam jelas di bentang ingatan orang-orang yang pernah menjadi muridnya. Banyak komentar seputar cara mengajarnya yang penuh kasih. Beberapa konsep pendidikannya yang berhasil direkam oleh orang-orang yang dekat dengannya adalah hakekat pendidikan anak usia dini. Menurutnya, pendidikan usia dini adalah momen pembentukan karakter dan mendekatkan anak-anak dengan iklim pendidikan. Karenanya belajar membaca, menulis dan berhitung (Calistung) seharusnya tidak diterapkan di pendidikan anak usia dini.

Selain itu, Ibu Mudjiem dalam mendidik anak tidak pernah menuntut seorang murid untuk segera bisa. Menurutnya dalam mengajar seorang guru harus santai, biarkan proses pendidikan itu berjalan apa adanya. Hal paling penting menurutnya adalah semangat anak untuk terus bersekolah. Itu hal yang harus selalu dirawat. Adapun apakah dia menjadi orang yang pintar atau tidak, itu urutan kesekian. Dalam mendidik anak, Ibu Mujiem begitu menyadari bahwa proses mendidik tidak hanya terbatas pada mengajar, tetapi juga berpikir dan membentuk karakter peserta didik.

Salah seorang anaknya mengaku bahwa ibu Mudjiem begitu mencintai dunia pendidikan. Sepanjang hidup, dirinya selalu dedikasikan untuk pendidikan. Di masa-masa senja dari kehidupannya sekalipun, selalu diisi dengan diskusi panjang dengan anak-anaknya yang sekarang rerata juga berkiprah di dunia pendidikan. Sebuah totalitas yang luar biasa yang penting untuk diwarisi oleh generasi saat ini.

Tidak hanya dalam dunia pendidikan, kiprah nyata srikandi milik desa Lendang Nangka ini juga aktif di bidang kehidupan lainnya. Dalam bidang sosial kemasyarakatan misalnya, dirinya tercatat sebagai salah satu penggagas Organisasi Usaha Perempuan di Kampung Masjid desa Lendang Nangka. Juga yang tak bisa dilupakan adalah peran pentingnya dalam tim yang membawa desa Lendang Nangka mendapatkan penghargaan Anugerah Bintang Selaparang.  

Totalitas dan profesionalisme Ibu Mujiem telah terbukti melalui bentang sejarah yang telah secara otomatis melukisnya. 32 tahun adalah waktu yang teramat panjang untuk seorang perempuan dengan tugas sebagai guru, istri, ibu, dan penjaga rumah tangga secara bersamaan.

Ibu Mujiem kini telah menutup seluruh buku catatan kehidupannya. Kembali ke hadirat-Nya. Tepatnya pada usia 70 tahun. Namun demikian, lembar-lembar yang ia gores masih bisa kita buka untuk dipelajari dan menjadi bekal para generasi penerus bangsa dan negara ini.

Selamat jalan Ibu Mudjiem, jasa-jasamu akan menjadi bekalmu dalam perjalanan menuju keabadian.  

Post a Comment for " Ibu Mudjiem, Cinta dan Dedikasi Pendidikan yang Tak Bertepi"

Berlangganan via Email