Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Bertasbih dengan Menulis

 

Setiap orang memiliki kebutuhan untuk selalu terhubung dengan Tuhannya. Untuk selalu terhubung kita diminta untuk selalu online. Tasbih adalah salah satu mekanisme yang Tuhan sediakan untuk hamba-hamba-Nya yang ingin terus terhubung. Tasbih secara bahasa berarti ‘mensucikan’. 

Dalam tradisi berislam kita, tasbih bermakna mengingat Allah dengan menggunakan asma-asma Allah dengan menggunakan alat hitung tertentu. Bertasbih diyakini sebagai cara jitu memupuk keimanan seseorang.

Selain sebagai suatu bentuk ritual mengingat Tuhan dengan verbal, tasbih juga memiliki wajah yang lebih kuat dalam memaknai pertemuan dengan Tuhan yakni dalam bentuk gerakan. Kita mengenal ada sholat sunnah tasbih. Dalam solat sunnah tersebut, seseorang didorong untuk mensucikan Allah dalam setiap gerakan sholat yang dilakukan.

Perlu direnungi, bahwa tidak hanya manusia yang bertasbih kepada-Nya. Seluruh alam semesta juga memanjatkan pensucian mereka kepada Allah. Surat Al-Isro 44: Seseungguhnya seluruh yang ada di langit dan bumi bertasbih kepada-Nya, akan tetapi kalian tidak mengetahui tasbih mereka. An-Nur 41: Tidakkah kalian melihat bahwa seluruh yang ada di langit dan bumi bertasbih? serta di berbagai ayat lainnya menunjukkan hal tersebut. Tasbih mereka itu berlangsung sepanjang waktu (An-Nur: 36).

Keterangan diatas menunjukkan bahwa alam semesta memanjatkan tasbihnya sepanjang waktu. Lantas bagaimana dengan kita sebagai manusia? Sudahkah kita sepenuhnya melakukan tasbih kepada sang pencipta? Jika melihat kenyataan diatas, kita sejatinya malu sebagai khalifah di muka bumi ini namun intensitas tasbih kita justru yang paling rendah diantara seluruh mahluk di alam semesta ini. 

Oleh karena itu dalam tradisi tasawuf, setiap orang selalu di dorong untuk melakukan aktivitas dizikir kepada sang kuasa termasuk dengan cara bertasbih. Apakah kemudian, setiap waktu kita harus dihabiskan dengan memuji asma-Nya serta membatasi diri dari berbagai tanggung jawab lainnya?

Ibnu Athaillah memberikan keterangan, bahwa dzikir yang kita panjatkan tidak hanya berbentuk ucapan lisan, tetapi juga dalam tindakan dan pemikiran. Setiap gerak kita bisa saja diniatkan untuk bertasbih kepada-Nya. Setiap olah intelektual kita juga bisa dijadikan media untuk mensucikannya. Bertafakkur menjadi salah satu hal penting yang tak kalah nilainya dengan bertasbih atau berdzikir.

Bahkan dalam hadits disebutkan bahwa bertafakkur sejenak, lebih utama dari ibadah 60 tahun. Ini mengindikasikan bahwa manusia, meski mungkin tidak bisa seperti mahluk lainnya untuk bertasbih secara terus-menerus dengan cara yang terbatas, tetapi melalui kemampuan penalaran dan pengolahan keilmuannya, bisa menghadirkan nilai yang sepadan dengan bertasbih sepanjang waktu.

Tasbih dengan demikian, menjadi wadah penting pertemuan antara hamba dan Tuhannya, baik melalui pujian-pujian verbal, tindakan-tindakan positif, serta perenungan-perenungan yang produktif. Menulis bisa jadi merupakan salah satu bentuk tasbih yang mengabadi. Iya, karena satu tafakkur yang ditulis tentu nilainya berbeda dengan hasil tafakkur yang tidak ditulis. 

Menulis adalah cara bertasbih sepanjang waktu. nafas kita mungkin terbatas untuk melakukannya, tetapi kata-kata bisa berusia lebih panjang dari umur lisan kita. Subhanallah wal hamdulillah wa la ilaha illallah wallahu akbar.  

Post a Comment for "Bertasbih dengan Menulis"