Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Redefinisi Hijrah, Dari Eksistensi Menuju Substansi

 

Menyambut tahun baru Islam, telah lumrah kita rasakan suforia masyarakat muslim di negeri ini.  Berbagai perayaan dilakukan, termasuk pengajian-pengajian. Ada satu materi yang selalu mencuat ke permukaan, yakni tentang hijrah. Iya, tahun baru hijriah sangat erat kaitannya dengan momentum hijrah. Secara historis, hal ini mengacu pada peristiwa bersejarah nabi, ketika sang rasul dan ummatnya dipertitahkan untuk meninggalkan kota Makkah menuju kota Madinah.

Belakangan, muncul kelompok-kelompok yang begitu antusias mengkapanyekan hijrah. Mereka mengajak ummat melakukan hirah. Namun demikian, keganjilan muncul ketika menyaksikan orientasi hijrah yang ditawarkan, mereka seolah tak memahami betul substansi hijrah. Mereka terjebak dalam pemaknaan hijrah yang bersifat eksistensi semata (tampilan luar). Misalnya, hijrah dipahami sebagai mengganti busana menjadi baju tertentu: yang awalnya tidak jenggotan menjadi jenggotan, yang awalnya tidak berisybal menjadi berisybal. serta berbagai tindakan yang menunjukkan dangkalnya definisi hijrah.

Padahal, jika kita mengacu sejarah, hijrah adalah peristiwa penting yang melambangkan komitmen terdalam nabi dan kaum muslimin. Hijrah adalah upaya mempertahankan keimanan, menjalankan tuntunan agama dengan penuh ketakwaan. Hadits yang mengabadikan peristiwa hijrah adalah hadis populer yang banyak dihapal kalangan muslim yakni hadits “Sesungguhnya perbuatan tergantung niatnya.” Sayanganya, hadits ini belum (atu tidak sama sekali?) mendapat perhatian serius dari para penggagas hijrah di era sekarang ini.

ilustrasi hijrah, sumber gambar: kumparan.com

Asbabul wurud dari hadis tersebut, sebagaimana yang ditulisakan buku-buku sejarah Islam,  bahwa saat perintah hijrah datang, banyak dari kalangan muslim yang ingin ikut bersama nabi, namun demikian, keinginan hijrah secara kasat mata memang mulia, namun Allah dan Rasulnya lebih tau apa yang ada di dalam dada. Saat itu, banyak dari kalangan sahabat yang berniat hijrah bukan untuk agamanya (Allah dan Rasul-Nya) tapi untuk harta yang ingin dia cari dan untuk perempuan yang ingin dia nikahi. Oleh karena itu, Rasulullah mengatakan: “sesusungguhnya seseorang akan mendapatakan balasan menurut apa yang diniatkan. Jika niat hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya, maka dia telah berhijarah untuk agamanya. Jika niat hijrahnya untuk harta atau perempuan yang ingin dinikahi, maka hijrahnya hanya terbatas pada maksudnya itu.” (Hadits Arba’in)

Data historis diatas menunjukkan bahwa hijrah bukan hanya perkara tampilan semata. Hijrah tidak hanya pada seseorang yang tiba-tiba rajin ke masjid, tapi hanya untuk motif tertentu. Bukan hanya ketika seseorang perempuan berhijab namun masih haus eksistensi di dunia maya. Bukan tentang kanal-kanal Youtube yang menampilkan riwayat orang-orang berhijrah sambil mewek, padahal yang dicari hanya rating dan iklan!

Ironisnya, gelombang hijrah yang digerakkan kelompok tertentu mendapat sambutan hangat dari kelompok milenial. Terjadilah kemudian apa yang disebut “instanisasi beragama”. Seseorang yang memakai jubah setiap hari seolah auto-soleh. Seseorang yang baru berkofiah seolah memiliki hak untuk berdiri di panggung-panggung dakwah. Ada banyak berbagai kecelakaan moral yang dipertontonkan jamaah hijrah terutama di media-media daring. Ini patut menjadi perhatian kita bersama.

Dapat disimpulkan bahwa, pola hijrah yang ditawarkan beberapa kelompok Islam hanya berpaku pada definisi hijrah yang bersifat eksistensi semata, dan sangat minim mengangkat nilai-nilai yang bersifat substansi. Oleh karena itu, perlu didefinisikan ulang, bahwa hijrah pada hakikatnya adalah meningkatkan kualitas diri, dengan cara memeperbaiki jiwa (menata niat), amalan-amalan keagamaan, serta interaksi kita dengan sesama. Ketika kualitas diri seseorang bertambah saat melakukan hijrah, maka itulah makna hijrah sesungguhnya. Namun jika mereka mengatakan hijrah dengan mengganti berbagai tampilan mereka, tapi tetap akrab dalam tutur yang menyakitkan, selalu merasa benar sendiri, selalu ajaran keagamaannya yang paling baik, barangkali memang hijrah yang dilakukan bukan mengikuti hijrahnya Nabi, hanya mengikuti nafsunya sendiri!  (WAY)

Post a Comment for "Redefinisi Hijrah, Dari Eksistensi Menuju Substansi"