Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Rukshoh Puasa, Melihat Kembali Sisi Kemanusiaan dalam Beragama



Dalam konteks puasa, kita bisa melihat bagaimana Tuhan memberikan porsi besar atas nilai kemanusiaan. Konsep rukhsoh yang ada dalam ketentuan puasa Ramadhan menunjukkan kepada hal tersebut. Dalam al-Quran surat Al-Baqarah ayat 185, Allah memberikan dispensasi kepada beberapa orang dengan diperbolehkan tidak berpuasa yakni orang yang sakit dan orang yang safar (perjalanan). Allah tegaskan tentang rukhsoh (keringanan) ini: yuridullahu bikumul yusro wa la yuridu bikumul ‘usro, ‘Allah menginginkan yang mudah bagimu bukan yang sulit’.

Puasa Ramadhan adalah syariat Tuhan, tetapi Dia tidak semena-mena untuk membuat ketentuan. Ketika kesulitan ternyata ditemukan dalam proses pelaksanaan syariat tersebut, Tuhan menyediakan rukhsoh! Kenyataan ini kembali mempertegas bahwa kemanusiaan diutamakan dari yang lainnya. Jika kita menilik sejarah, bahwa diperbolehkannya beberapa kalangan muslim untuk meninggalkan puasa Ramadhan dan menggantinya di lain kesempatan merupakan bentuk Islam melihat tradisi yang mengakar kuat pada bangsa Arab. Sebagaimana kita tahu bahwa orang-orang Arab dahulu sangat gemar melakukan perjalanan jauh untuk kepentingan ekonomi ataupun lainnya, selain itu kita juga tahu bahwa sering kali musim panas di Arab menjadi sangat ekstrim sehingga rentan mempengaruhi kualitas kesehatan masyarakatnya.

Islam memahami hal itu dengan sangat bijaksana, Allah kemudian memberikan jalan keluar atas apa yang menjadi problem bagi pemeluknya. Seandainya tidak ada keringanan untuk orang-orang yang terhalang melakukan puasa ramadhan (karena sakit atau karena dalam perjalanan), maka tentu Islam akan ditinggalkan. Itulah mengapa keringanan tersebut oleh Ibnu Katsir dimaknai sebagai rahmat dari Allah kepada hamba-hamba-Nya.  

Dalam beberapa riwayat, Rasulullah SAW. sering kali mempertegas kembali firman Allah yuridullahu bikumul yusro...., bahwa kemudahan itu adalah salah satu kebaikan dalam agama. Rasulullah juga mengatakan “sesungguhnya agama Allah itu mudah”. Anas bin Malik juga meriwayatkan tentang salah satu pesan Rasulullah tentang hal ini: “Mudahkanlah, jangan dipersulit! Damaikanlah, jangan diperselisihkan!”. Bahkan salah satu pesan penting Rasulullah kepada Muadz dan Abu Musa (dua gubernur muslim pada waktu itu) ketika mereka akan pergi bertugas untuk manusia, yassira wa la tu’assira ‘mudahkanlah, jangan mempersulit!’.  

Berbagai hadits nabi diatas menunjukkan dengan tegas bagaimana Islam memposisikan kemanusiaan. Bahwa agama hadir untuk mempermudah manusia bukan sebaliknya. Nilai-nilai kemanusiaan begitu dijunjung tinggi, oleh karena itu menurut Raghip As-Sirjani, salah satu karakteristik mendasar dalam Islam adalah universalitas. Dalam keuniversalan itu Islam sungguh-sungguh menghargai kemanusiaan. Penting mengingat kembali, bahwa kemanusiaan adalah salah satu pesan tegas Rasulullah pada pidato terakhirnya, “Sesungguhnya darah kamu dan harta kamu sekalian haram (ditumpahkan) sebagaimana diharamkan pada hari ini, bulan ini, di negeri ini sampai hari pertemuan dengan Tuhan kalian semua.” (HR. Bukhari).

Data diatas, baik secara normatif maupun historis menunjukkan sekali lagi tentang bagaimana Islam menjunjung tinggi kemanusiaan dengan memberikan keringanan-keringan dalam hal pelaksanaan tuntutan keagamaan. Inilah salah satu pesan Ramadhan yang juga penting untuk kita kaji lebih dalam, bahwa bulan yang penuh rahmat ini benar-benar mengandung banyak rahmat Allah yang dipancarkan kepada seluruh hamba-Nya.   

Post a Comment for "Rukshoh Puasa, Melihat Kembali Sisi Kemanusiaan dalam Beragama"

Berlangganan via Email