Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Cinta dan Dosa

Dalam bahasa Arab, ada dua kata yang sangat berdekatan secara fonetis untuk menyebut istilah cinta dan dosa. Untuk menyebut cinta, Al-Quran menggunakan istilah hubb (5:54). Adapun untuk dosa mereka menggunakan huub (4:2). Jika diperhatikan, kedua kata itu sama secara fonologis (ilmu tentang suara bahasa), yaitu h-u-b. kedua kata tersebut hanya dibedakan oleh unsur bunyi. Jika untuk menyebut istilah ‘cinta’, u disebut sekali dengan menggandakan bunyi b. adapun pada kata kedua-yang berarti dosa, bunyi u digandakan dengan menunggalkan bunyi b.
 
Melalui tulisan ini, penulis ingin mengemukakan suatu analisis perspektif linguistik untuk menemukan suatu konsep tentang cinta dan dosa dan bagaimana kedua kata ini terikat secara fonetis dan makna. Memang dalam kajian bahasa Arab (istiqaq) tidak bisa dipungkiri bahwa kedekatan bunyi sering kali menunjuk kepada kedekatan makna. Itulah yang menjadi hipotesa tulisan ini.
 
Mari kita kembali kepada makna cinta. Cinta dimaknakan sebagai sesuatu yang ada pada diri seseorang yang dengannya mereka memberikan kasih sayang, menunjukkan kepada hal yang baik. Serta selalu menginginkan yang terbaik bagi yang dicintai. Pada prinsipnya, semua orang sepakat bahwa cinta selalu bermakna positif. Yakni menunjuk kepada sesuatu yang indah.
Tapi kemudian, interpretasi tentang cinta semakin beragam ketika kata-kata cinta mulai disandingkan dengan realitas kehidupan. Banyak ditemukan, cinta telah menjadi sebab rusaknya moral seorang. Membuat dia terjerumus narkoba, kebebasan seksual, serta menghalalkan segala cara untuk mewujudkan cintanya. Dengan berbagai realitas itu, ada berbagai terminologi muncul untuk mereinterpretasi makna cinta, seperti cinta yang buta, cinta penuh dusta, cinta yang ternoda dan berbagai makan lain dari cinta.
 
Lantas bagaimana kemudian cinta pada hakikatnya? Sejatinya tidak ada cinta yang ternoda, juga tidak ada cinta yang buta. Yang ada hanya cinta yang tak lagi menemukan porsi yang sesungguhnya. Jika bertolak dari landasan linguistik dimuka. Cinta itu seharusnya menegaskan (bb-hubb) bukan mengulur-ulurkan (uu-huub). Cinta itu cukup selangkah karena jika lebih dari selangkah maka bukan cinta lagi namanya.
 
Fonem u dalam bahasa Arab memiliki implikasi makna tinggi. Seperti Allahu. Nah cinta itu tinggi, dan tidak boleh ditinggi-tinggikan lagi ya, karena jika kita meninggikan lagi, maka akan terjadi kegoncangan, akan terjadi kesalahpahaman. Oleh karena itu, sedikit sekali jarak antara cinta dan dosa. Ketika anda mencintai seseorang (hubb) kemudian ada menegaskan untuk menikahinya, maka rahmat dan kasih sayang Allah sepenuhnya anda dapatkan. Tetapi berbeda ketika anda ber-hubb, tapi anda tidak langsung menegaskannya, tetapi lebih suka memainkannya lebih panjang sehingga hubb yang seharusnya satu u menjadu huub, yang secara makna telah jauh meleset. Itulah mungkin yang menyebabkan banyak orang yang mengkau tengah menjalin cinta, tapi tanpa sadar telah menjerumuskan diri dalam dosa.
 
Jadi belajar dari kata hub, ketika anda mulai mencintai seseorang, cukup konsisten dan tegaskan. Bukan mengulur dan mempermainkan.

Post a Comment for "Cinta dan Dosa"