Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Bencana Alam dan Bencana Akal


Setelah bencana Tsunami Aceh yang meratakan provinsi tersebut dengan tanah, Irwan Abdullah melakukan riset sosial tentang bencana menggunakan pendekata Antropologi. Menurut guru besar Antropologi tersebut, konstruksi sosial bencana sangat dipengaruhi oleh pola pikir masyarakat tertentu, biasa berpola sebagaimana konsepsi August Comte. Menurut Comte, pola pikir manusia terpola pada tiga bentuk, yaitu mitos, teologis dan positif ilmiah. Berdasar pada hasil riset tersebut, sesungguhnya kerusakan paling parah yang saya rasakan di Lombok terkait bencana ini bukanlah kerusakan infrastruktur, tetapi kerusakan akal sehat. Badai hoax yang mengitari bencana gempa Lombok dan sikap apirmatif masyarakat menjadi bukti kuat atas kerusakan akal sehat tersebut.
Manusia dalam mengkonstruksi bencana, sering kali mengikuti pola paradigmatik Comtian. Di Lombok jika kita melihat masyarakatnya, kebanyakan melihat bencana perspektif mitos, sementara sebagian kecilnya, melihat dengan sudut pandang agama (teologis) dan data ilmiah (positif ilmiah). Keyakinan bahwa bencana merupakan dampak dari kemarahan Dewi Anjani, sosok mahluk gaib yang sering diperbincangkan dalam khazanah mitologi Lombok menjadi bukti paradigma kelompok pertama. Kemudian statemen personal maupun komunitas tertentu yang menyebut bahwa gempa Lombok merupakan akibat dari masyarakat yang mulai meninggalkan nilai-nilai keagamaan menjadi bukti kelompok kedua. Serta masyarakat yang terus memantau perkembangan gempa Lombok dari situs BMKG dan beberapa komunitas ilmiah lainnya, menjadi bukti adanya kelompok pola pikir ketiga.

Terlepas dari pola pikir tersebut, kecelakaan paling serius yang menurut saya menimpa Lombok adalah sekali lagi bukan rusaknya infrastrukturnya, tetapi matinya sikap kritis terhadap data. Lihatlah bagaimana masyarakat Lombok dipermainkan oleh hoax. Semakin dicekik dengan berbagai informasi sampah yang sangat menekan secara psikologis. Seharusnya, becana alam jangan menjadikan akal sehat kita juga terciderai. Kita harus mempertahankan akal sehat bahkan dengan “gigi geraham” sekalipun.
Parahnya, informasi sampah yang dikonsumsi dijadikan amunisi untuk menganggap diri lebih pintar dari guru besar bidang Enginering sekalipun. Ini kecelekaan yang sungguh memilukan. Dimana pengetahuan orang yang melalui prosesnya dengan sungguh-sungguh menjadi tidak ada apa-apanya di mulut manusia-manusia sok tau. Berbagai otak awam berlagak paling mengerti tentang gempa, paling paham dan paling mengerti keadaan. Inilah bencana sesungguhnya. Yaitu bencana akal sehat.  
Kerusakan gedung dan infrastruktur lainnya mungkin bisa saja ditanggulangi dengan jumlah anggaran tertentu, tetapi kerusakan akal sehat membutuhkan tidak hanya materi, tetapi keinginan besar dan perbendaharaan literasi yang tidak sedikit dan tidak singkat untuk menyembuhkannya. Oleh karena itu, mari kita jaga akal sehat kita. Katakan tidak untuk berita sampah. Kita boleh kehilangan rumah, kantor, gedung menjulang lainnya oleh bencana ini, tapi tidak untuk akal sehat kita.

Post a Comment for "Bencana Alam dan Bencana Akal"

Berlangganan via Email