Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Ketika Dunia Menjelma Biru



Diperjumpaan yang dalam,
Setelah lama tak saling pandang,
Engkau meminta puisi,
Sebagai selendang cinta yang abadi.
Dalam hasrat yang dalam,
Melihatmu tak menghilangkan kerinduan.

Apa yang diinginkan rindu?
Jika pertemuan tak serta membuat syahdu.
Ku ingin menulis puisi untukmu,
Tapi kata-kata tak menjangkau indahmu.
Hingga kutulis sebuah puisi tentang biru,
Sebagai lambang kerinduan dan kecintaan yang merdu.

Saat kita di atas pasir yang beku,
Memandang lautan yang biru,
Indah langit nan biru,
Serta selendang bidadarimu yang biru.

Aku tak mengerti, sejak saat itu seluruh bumi menjadi biru.
Kita tak bisa lagi membedakan biru laut dengan biru langit
Karena hati kita telah menjadi biru.

Post a Comment for "Ketika Dunia Menjelma Biru"